Komunitas Baca Lampung Ngobrol dan Berpikir Gelar Kegiatan Bedah Buku

Kamis, 10 November 2022 - 13:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung (dinamik.id) — Komunitas Baca Lampung Ngobrol dan Berpikir (Ngopi) mengadakan kegiatan bedah buku yang berjudul Sejarah Pergerakan Nasional, Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia dan Kiprah Kaum Santri Dalam Lahirnya Negara Kesatuan Indonesia karya Dr. Wahyu Iryana, M. Hum, di GSG Fakultas Syariah UIN RIL, Kamis (10/11/22)

Kegiatan itu mengangkat tema Refleksi Peran Santri, Ulama dan Pemuda dalam Panggung Sejarah Nasional dengan menghadirkan 3 pembicara yakni Iqbal Ardiansyah, S.Si.,M.M dan M. Iwan Striawan,M.H serta Dr. Wahyu Iryana, M.Hum selaku penulis buku.

“Bedah buku ini sengaja digelar agar kita generasi muda mengetahui peran para pemuda, santri dan ulama dahulu dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia,” ujar Agung Fajri, selaku Ketua Pelaksana.

Sementara Indri Ayu Ning Tyas selaku Ketua Lampung Ngopi dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini bertujuan membuka kembali cakrawala berpikir mahasiswa untuk menelisik sejarah perjuangan bangsa.

Baca Juga :  Dilokasi Kongres, PMII Lampung Gelar Istighozah dan Doa Bersama Untuk Alm. Sekjend PB PMII, Rafsanjani

“Tak lupa kegiatan ini juga bertujuan membangun semangat agar terus merawat budaya mahasiswa, yakni membaca menulis dan diskusi,” tambahnya

Iqbal Ardiansyah selaku Ketua DPD KNPI Provinsi Lampung dalam kesempatan membuka acara dalam bedah buku tersebut mengatakan, dirinya berharap diskusi kali ini bisa membangkitkan semangat juang pemuda dan mahasiswa.

“Masa depan ada pada hari ini dan kita, bagaimana kita melewati dan membangunnya. Bangsa ini membutuhkan generasi pemuda yang terus berkarya,” paparnya

Dalam penyampaiannya, Iqbal Ardiansyah memulai dengan mengapresiasi karya Wahyu, buku ini tentu menjadi pelajaran penting bagi anak muda hari ini.

“Rasa persatuan penting untuk selalu dijaga, apalagi ditengah pesatnya kemajuan dunia media yang banyak informasi hoax dan ideologi-ideologi yang memecah belah persatuan,” tambahnya.

Dijelaskanya, sebagai anak muda penting baginya membangun rasa cinta tanah air, sebagai bekal persatuan dan kemajuan bangsa. Selain membangun nalar politik, menjaga nilai-nilai, perlu juga dibangun nalar ekonomi kreatif.

Baca Juga :  Banjir Bandar Lampung Kian Parah, Aktivis Tagih Janji Eva Dwiana

“Dengan membuka usaha meski kecil paling tidak membantu dirinya sendiri untuk tidak menjadi pengangguran ditengah minimnya lapangan pekerjaan,” jelasnya

Sementara itu, Dr Wahyu selaku penulis buku, dalam pemaparannya mengakui sempat di agitasi oleh Ulil Abshar Abdalla. Mas Ulil itu sapaan akrabnya, mengatakan kepadanya saya kekurangan jembatan untuk menarasikan ide dan gagasan ke kaum muda, karena anak-anak muda cenderung terjun ke dunia politik praktis. Hal itulah yang mendorongnya untuk konsen di dunia akademisi dan penulisan buku sebagai jembatan nalar.

Ia mengatakan, bahwa terdapat berbagai sumber sejarah yang kurang tepat yang dilakukan oleh orang-orang sekuler, untuk itulah karya ini di buat. Selain itu terdapat juga berbagai sejarah penting yang belum dituliskan.

Baca Juga :  Pejabat Publik dan Struktural “Diperkenankan” Menjadi Pengurus KONI

Menurutnya, penjajahan di Indonesia dahulu bukan saja aspek ekonomi, tetapi ada aspek kekuasaan dan penyebaran agama atau (Glory, God dan Gospel).

“Pemuda dahulu saat sedang berjuang selalu menghadap ke Kyai. Sementara sekarang, pemuda justru menghadap pacarnya,” terangnya

Sedangkan pembicara M. Iwan mengawali pembicaraannya dengan mengajak peserta bedah buku mengirim doa untuk mengenang para pahlawan dahulu.

Ia mengatakan, bahwa lebih banyak sejarawan asing ketimbang sejarawan Indonesia, hal ini karena terdapat banyak pembatasan terkait data dan pendanaan.

Ia juga menyampaikan perbedaan pemuda era dahulu dengan sekarang, jika Soekarno, Hatta dan kawan-kawan selalu bersama buku dan Masyarakat. Sementara era sekarang adalah era Dilan, Reza Rahadian, yang pemudanya lebih senang menghabiskan waktu update story, tik-tokan, selfie dan lain-lain. (Sandi)

Berita Terkait

Semakin Ekspansif, PTPN I Bidik Pasar Global Cerutu dari Bali
Car Free Day Gen Zi Ditunda Tak Dapat Izin Pemerintah
PTPN I Dukung Pemprov Jabar Hijaukan Lahan Cikembang
Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan
Arsip Dokumentasi Bersejarah Museum Lampung Ditemukan Terbengkalai di Area Belakang Gedung
PTPN I Perkuat Ekosistem Pangan Kembangkan Hilirisasi Ayam di Bone
Dukung Program Presiden Prabowo, PTPN I Regional 7 Tanam Demplot Singkong Mukibat
Semen Baturaja Siap Berkolaborasi dengan PWI Lampung

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Semakin Ekspansif, PTPN I Bidik Pasar Global Cerutu dari Bali

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:17 WIB

Car Free Day Gen Zi Ditunda Tak Dapat Izin Pemerintah

Rabu, 30 September 2026 - 21:17 WIB

PTPN I Dukung Pemprov Jabar Hijaukan Lahan Cikembang

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan

Selasa, 29 September 2026 - 06:01 WIB

Arsip Dokumentasi Bersejarah Museum Lampung Ditemukan Terbengkalai di Area Belakang Gedung

Berita Terbaru


Jajaran PT Perkebunan Nusantara I (Persero) saat menghadiri Cigar Festival (ICF) 2026 di Bali, Jumat (2/10). PTPN I membawa produk cerutu Indonesia lebih dekat ke pasar global.

Ekonomi dan Kreatif

Semakin Ekspansif, PTPN I Bidik Pasar Global Cerutu dari Bali

Sabtu, 3 Okt 2026 - 13:22 WIB

Wakapolres Lampung Utara mewakili Kapolres Lampung Utara menghadiri kegiatan Colour Fun Genzi Aprozi Alam yang digelar di Stadion Sukung Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Minggu (30/8/2026). ILUSTRASI DOK GENZI

Edukasi

Car Free Day Gen Zi Ditunda Tak Dapat Izin Pemerintah

Jumat, 2 Okt 2026 - 21:17 WIB