Pringsewu (Dinamik.id) – Warga Pekon Wonodadi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu menyebut aktivitas truk tambang yang hilir mudik melintas menjadi salah satu penyebab rusaknya jalan di wilayah mereka.
Hal tersebut diungkapkan Ali, warga Wonodadi, usai ratusan warga turun ke jalan menggelar aksi gogoh iwak di ruas Jalan Radin Intan, Pekon Wonodadi, Senin (26/1/2026), sebagai bentuk protes atas kondisi jalan rusak.
“Salah satu penyebab jalan rusak ini adalah mobil truk tambang yang bolak-balik melintas,” ujar Ali.
Menurut Ali, jalan tersebut terakhir kali dalam kondisi baik pada tahun 2002 silam. Sejak itu, warga harus bertahun-tahun menghadapi kondisi jalan yang rusak parah.
“Kami sudah capek dengan kondisi jalan seperti ini. Kalau musim hujan becek penuh kubangan, kalau kemarau berdebu. Kasihan warga, termasuk pelaku UMKM di sekitar yang ikut terganggu,” katanya.
Di hadapan Camat Gadingrejo, anggota DPRD, serta perwakilan pemilik tambang, Ali menyampaikan sejumlah tuntutan. Ia meminta agar jalan segera diperbaiki, kepastian jadwal perbaikan diumumkan secara jelas, kualitas bahan baku diperhatikan, serta selama proses pengerjaan truk tambang tidak melintas sementara waktu.
Sementara itu, Syarif, warga lainnya, menyebutkan terdapat tiga tambang yang selama ini beroperasi di wilayah Gadingrejo.
“Kami minta pihak tambang memperhatikan jalan yang rusak. Jangan tambangnya makmur, tapi masyarakat sengsara,” tegasnya.
Menanggapi tuntutan warga, Ari Madani, perwakilan pemilik tambang CV BKMB, menyatakan pihaknya siap menampung aspirasi warga, terutama terkait pemeliharaan jalan.
“Dalam artian kami siap melakukan penambalan jalan yang berlubang. Namun kalau bicara CSR atau perbaikan permanen, harus ada mediasi antara tiga tambang dan pihak pekon,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Titin Agustin, perwakilan dari Tambang CV Sinar Bumi Mandiri (SBM). Ia mengatakan akan menyampaikan aspirasi warga kepada pimpinan perusahaan.
“Terkait pemeliharaan jalan, termasuk perbaikan gorong-gorong yang ambrol, akan kami upayakan minggu ini,” kata Titin.
Dalam aksi tersebut, warga juga memasang sejumlah banner berisi tuntutan dan kritik, di antaranya bertuliskan “Tambang Kaya, Rakyat Sengsara” serta “Dalam Waktu Sebulan Tidak Diperbaiki, Jalan Kami Blokir”.
ratusan warga Gadingrejo turun ke jalan melakukan aksi gogoh iwak sebagai bentuk protes terhadap pemerintah daerah karena jalan rusak di wilayah mereka tak kunjung diperbaiki.
Aksi tersebut dilakukan di ruas Jalan Pekon Wonodadi–Wonosari, Kecamatan Gadingrejo, yang juga merupakan akses penghubung menuju Way Lima, Kabupaten Pesawaran. Menurut Eko, warga setempat, aksi serupa sudah dilakukan sebanyak lima kali, namun belum mendapat respons nyata dari pemerintah.
“Panjang jalan rusak sekitar 500 meter. Mudah-mudahan ini menjadi aksi terakhir,” harapnya.
Warga lainnya menyebut aksi ini sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara terbuka kepada pemerintah daerah.
“Kalau Pak Bupati sering gogoh iwak di sawah, silakan datang ke sini gogoh iwak di jalan rusak bareng kami,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa banyak pengendara, khususnya anak sekolah, kerap terjatuh akibat jalan berlubang dan dipenuhi kubangan.
“Setiap hari kami menghirup debu jalanan. Kami minta tolong agar pemerintah segera memperbaiki jalan ini, jangan hanya janji-janji belaka,” tegasnya.
Pantauan di lokasi, peserta aksi yang didominasi kaum emak-emak tampak antusias menyampaikan aspirasi. Suasana semakin ramai saat warga berebut sekitar dua kuintal ikan lele yang disiapkan dalam aksi gogoh iwak tersebut.
Kapolsek Gadingrejo, Iptu Sugiyanto, yang memantau langsung jalannya aksi, mengimbau warga agar tetap menjaga ketertiban.
“Silakan menyampaikan aspirasi, namun ini fasilitas umum, jadi perlu dipertimbangkan agar tidak mengganggu aktivitas warga lainnya,” ujarnya.
Aksi berlangsung sekitar 90 menit. Setelah itu, warga membubarkan diri dengan tertib dan kembali membuka akses jalan yang sempat ditutup. (Rhn)












