Bandar Lampung, (dinamik.id) — Di tengah suasana sejuk perbukitan Kemiling, puisi dibicarakan bukan sekadar sebagai kata-kata, melainkan sebagai jalan untuk menjumpai dunia. Ari Pahala Hutabarat mengajak peserta Kemah Sastra 2026 menyelami makna itu dalam sesi pelatihan menulis di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandar Lampung, Rabu (8/4/2026).
Kemah Sastra 2026 ini diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung, seperti Tulang Bawang, Pesisir Barat, Lampung Utara, Kota Metro, Lampung Selatan, Pringsewu, Pesawaran, dan Bandar Lampung.
Di hadapan peserta, penyair sekaligus sutradara teater dari Komunitas Berkat Yakin (KoBer) itu menjelaskan bahwa puisi, melalui bahasa, mampu memperbarui cara manusia memandang, mengalami, menghayati, merayakan, sekaligus mempertanyakan dunia dan manusia, hal yang juga dilakukan oleh ilmu pengetahuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Namun, ada satu unsur pembeda di antara keduanya, yaitu bahasa. Pada ilmu, bahasa menjadi sekadar alat berkomunikasi. Mengjomunikasikan pemikiran. Sedangkan pada puisi, bahasa berperan ganda, ia alat sekaligus tujuan,” ujar Ari, yang baru meluncurkan buku puisi Nusantara: Amnesia.
Lebih lanjut, menurut penulis naskah teater Hilang Huma(n) itu, perbedaan antara ilmu dan sastra kerap terlihat pada aspek how to tell. Meski demikian, baik dalam aspek what is maupun how to tell, keduanya memiliki kegairahan yang sama antara ilmu dan puisi.
Ari menambahkan, lokus pertemuan antara puisi dan ilmu kerap berada pada ranah what is, yakni apa-nya.
“Lebih mudahnya kita sebut saja terjadi di ranah isi, problem, topik dan tema puisi. Dan memang harus diakui wilayah ini merupakan hantu terberat bagi kebanyakan penulis puisi di nusantar, termasuk saya tentunya,” ujarnya.
Lalu kata Ari, puisimu mau bicara apa? Puisimu tentang apa? Puisimu mau ngomongin apa? Apa yang mau kau persoalkan dalam puisimu? Opini apa yang mau kau sampaikan melalui puisimu? Apa tesis atawa proposisi baru nan segar yang kau tawarkan via puisimu? Apakah tema yang utarakan di dalam puisimu mendalam, matang secara psikologis, dan luas?
Pada kesempatan itu, Ari Pahala juga mengajak peserta melakukan pembacaan karya sastra kemudian menggali pemaknaan dan melihat ruang ambiguitas dalam karya puisi.
Ia mencontohkan pembacaan, salah satunya adalah puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono; “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:/dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Sementara itu, Fitri Angraini selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan, Kemah Sastra 2026 telah memasuki hari ketiga. Kegiatan di Villa Dangau Kedaung merupakan kelanjutan dari tahap seleksi karya menuju penentuan juara lomba cipta puisi dan cerpen untuk tingkat SMP, SMA, dan mahasiswa.
Program ini difasilitasi Kementerian Kebudayaan RI melalui dana Indonesiana.
Selain Ari Pahala Hutabarat dan Arman AZ, pemateri lainnya adalah Yinda Dwi Gustira dan Devin Cumbuan Putri yang membawakan materi alih wahana ke dalam bahasa Lampung. (Amd)












