Qurban dan Nilai Kemanusiaan

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis
Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., MM
Ketua PCNU dan Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung

SEPERTI dimahfumi kaum beragama, sejatinya Qurban sebagai ibadah adalah ritual yang secara simbolik membawa pesan, makna sekaligus memiliki tujuan dalam dua dimensi, persis seperti ibadah mahdoh yang lain.

Ia tidak saja hendak membimbing pelakunya untuk taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan sejumlah instrumen ekspresi penghambaan seperti keikhlasan, ketaatan, kepasrahan, ketabahan, dan pada saat yang sama.

Ibadah Qurban juga secara simbolik membawa pesan dimensi sosial seperti mengembangkan kepedulian dan kepekaan sosial, membimbing simpati dan empati kemanusia, dst.

Sebagai ibadah tentu qurban juga diatur dan terdapat seperangkat ketentuan rukun syaratnya, dalam hal ini secara syareat fiqh menyediakan pedoman pelaksanaannya.

Sebagai ritual ibadah ia telah berlangsung lama berabad abad, sejak mula disyareatkan Qurban tidak saja dipahami sebagai ibadah yang waktu pelaksanaanya ajeg saban tahun.

Lebih dari itu ritual Qurban juga secara simbolik telah menjadi bagian laku budaya menjadi tradisi perayaan umat manusia, terlebih di jagat nusantara.

Umat Islam Indonesia dengan tipologi utamanya yang dicirikan dengan sifat komunalnya, tentu juga turut mewarnai pelaksanaan ibadah Qurban. Sebagai ibadah individual Qurban dalam pelaksanaannya selalu membutuhkan keterlibatan banyak orang.

Baca Juga :  Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana Resmi Buka Muskercab I PCNU

Maka tidak heran jika di Indonesia ritual Qurban telah menjadi ritual kolektif, menjadi jauh lebih semarak, Qurban sudah menjadi tradisi yang tidak saja dilaksanakan oleh pengurus masjid, mushola, tapi juga menjadi kegiatan organisasi, jamiyyah, yayasan, institusi, perkantoran, komunitas, lembaga sosial, partai politik dan sebagainya.

Khasanah perayaan Qurban tidak saja telah menjelma menjadi laku sosial, tetapi juga nyata membawa dampak ekonomi bagi masyarakat, misalnya momentum Qurban menjadi panen raya bagi para peternak baik peternak skala usaha bisnis maupun skala usaha tradisional.

Di sana juga ada rezeki para jagal (juru sembelih), penjual daging di lapak.lapak pasar, penjual sarana pelaksanaan Qurban bahkan penjual arang dan tusuk sate, Perputaran uang bergerak cepat di level bawah.

Sebagai ibadah yang telah berlangsung lama, ritual perayaam Qurban sebagai laku sosial umat, harus bersedia untuk terus menerus dikoreksi, diperbaiki, ditingkatkan kualitasnya, setidaknya agar esensi utamanya sebagai pembawa pesan keagamaan tidak tercerabut spriritualitasnya.

Pelaksanaan Qurban hendaknya harus dimaknai secara kokektif untuk memunculkan banyak karakter ibrahim dan ismail baru di masyarakat, di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Baca Juga :  Unila Gelar Diklat Antikorupsi bagi Mahasiswa

Qurban juga secara individual oleh para pelakunya harus dijadikan sebagai wasilah atau jalan untuk menempuh perjalanan ruhaniyah, menuju mabuk kepayang menikmati hakekat cinta kepada Robbul izzati, cinta tak bersyarat, laksana totalitas ketaatan ibrahim dan kepasrahan ismail.

Hari raya Qurban juga harus didorong sebagai serupa momentum teaterikal upaya bersama sama menjadi laku kolosal secara simbolik membunuh watak kebinatangan, sifat tamak, sombong, rakus, serta egoisme, dst.

Upaya membumikan spiritualitas Qurban seharusnya tidak saja diorientasikan bagi pengurban, tapi juga bagi sesiapapun yang turut terlibat dalam kegiatan Qurban termasuk para panitia Qurban di banyak tempat itu.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya hendak menyampaikan keprihatinan saya yang sudah sejak lama terlibat dalam urusan kegiatan Qurban baik sebagai ASN yang bertugas di bidang peternakan, maupun sebagai penggiat kegiatan kemasjidan dan aktifis jamiyyah.

Saya mengamati antusiasme berQurban bagi para agnia sangat besar khususnya pada masyarakat kota. Tapi pada saat yang sama terdapat paradoks dalam hal ritual Qurban sebagai upaya membangun kesalehan sosial dan menguji serta mengasah kepekaan sosial umat beragama.

Misalnya kegiatan penyembelihan hewan Qurban di komplek-komplek elit, di perumahan menengah ke atas Qurban begitu berlimpah ruah, terdapat situasi yang njomplang di perkampungan pinggiran kota, di perkampungan padat penduduk, di kampung kawasan pesisir, dst..

Baca Juga :  Optimalkan Pengelolaan Dosen, Unila Gelar Diskusi Bersama Direktur Sumber Daya Ditjen Diktiristek

Situasi seperti ini tidak menjadi soal jika diimbangi dengan upaya distribusi daging yang lebih merata, lebih berkeadilan, dan berorientasi mengutamakan si lemah.

Lagi lagi pelakasanaan Qurban masih banyak didominasi pada laku ritual perayaan, bagi pengurban rasanya belum afdol jika tidak disebut namanya, tidak menyaksikan pemotongannya, tidak foto selfi bersama hewan Qurbannya. Mungkin saja soal ini menjadi musabab keengganan orang menyerahkan hewan qurban di tempat lain yang ia tidak ketahui tempatnya

Masih mungkin juga ada shohibul Qurban maupun panitia belum sampai pada situasi memiliki hasrat memakan daging Qurban sebatas mengejar keberkahannya, tapi acap ruang kulkas kita yang terbatas, dan kantong perut kita yang relatif sama, belum mampu membunuh keinginan memiliki daging Qurban yang lebih banyak.

Semoga tahun depan ada muncul Ibrahim dan Ismail baru yang berkenan mengunjungi kaum dhuafa dan mustadhaifin yang tinggal di kampung kampung pinggiran dan kumuh, sekedar memberi kejutan kecil membagi sekerat daging.

Wallahu A’lam Bishawab

Editor : Eka Setiawan

Sumber Berita : Opini

Berita Terkait

Kakanwil Kemenag Lampung Apresiasi Pencapaian Siswa MAN IC Lamtim
Ponpes Daarul Khair Kotabumi Gelar Milad XXXV, Perkuat Solidaritas Sosial
Pesantren Harus Jadi Ruang Aman, PCNU Bandar Lampung Serukan Perlawanan Terhadap Kekerasan Seksual
PKC PMII Lampung Gelar Movement Gathering dan Baksos di Desa Tejang Pulai Sebesi
PMII Rayon FKIP Unila Jalankan Program Pengabdian ke Desa Bawang
Refleksi Hari Kartini Ke-147: Ichwan Ajak Generasi Muda Bangun Kedaulatan Intelektual di Era Digital
Pensiunan PT SIL Gelar Halalbihalal Jaga Silaturahmi
PMII Komisariat STKIP PGRI Bandar Lampung Perkuat Komunikasi Kader dan Alumni Lewat Bukber

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:48 WIB

Qurban dan Nilai Kemanusiaan

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:50 WIB

Ponpes Daarul Khair Kotabumi Gelar Milad XXXV, Perkuat Solidaritas Sosial

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:33 WIB

Pesantren Harus Jadi Ruang Aman, PCNU Bandar Lampung Serukan Perlawanan Terhadap Kekerasan Seksual

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:53 WIB

PKC PMII Lampung Gelar Movement Gathering dan Baksos di Desa Tejang Pulai Sebesi

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:10 WIB

PMII Rayon FKIP Unila Jalankan Program Pengabdian ke Desa Bawang

Berita Terbaru

Edukasi

Qurban dan Nilai Kemanusiaan

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:48 WIB

Provinsi

Prabowo Serahkan Sapi Kurban 1,138 Ton untuk Pemprov Lampung

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:21 WIB