TULANG BAWANG BARAT, (Dinamik.i– Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat, melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) menggelar Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Tahun 2025.
Kegiatan ini , tentunya sebagai langkah strategis dalam menekan angka stunting dan menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Plt. Kepala Dinas PPKB Tubaba, Yudhi menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta rapat. Di tengah berbagai kesibukan, para pemangku kepentingan masih dapat meluangkan waktu untuk berkomitmen dan berpartisipasi aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting.
“Keberhasilan program ini tidak mungkin ditentukan oleh BKKBN saja. Oleh karena itu, diperlukan dukungan, komitmen, kepedulian, serta kerja sama lintas sektor dari seluruh mitra kerja dan pemangku kepentingan di semua tingkatan wilayah,” ujarnya.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting nasional mengalami penurunan sebesar 0,1%. Meski demikian, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, angka stunting nasional masih cukup tinggi, yaitu sebesar 21,5%. Pemerintah pusat menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga 14% pada tahun 2024 sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
Kabupaten Tulang Bawang Barat sendiri menunjukkan progres signifikan. Berdasarkan data SSGI tahun 2022, prevalensi stunting di kabupaten ini berada di angka 22,1%, menurun menjadi 16,4% pada tahun 2023 (SKI), dan diproyeksikan turun lagi menjadi 10,5% di tahun 2024.
Upaya percepatan dilakukan melalui dua pendekatan intervensi. Intervensi spesifik dilakukan secara langsung dalam bentuk pemberian makanan bergizi dan suplementasi vitamin, sedangkan intervensi sensitif dilakukan secara tidak langsung melalui peningkatan akses sanitasi, edukasi masyarakat, serta perbaikan lingkungan hidup.
Salah satu gerakan berbasis masyarakat yang diangkat dalam rapat ini adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Gerakan ini melibatkan pemerintah, BUMN, BUMD, LSM, komunitas, individu, dunia usaha, dan akademisi untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak dari keluarga miskin yang berisiko stunting, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia bawah dua tahun (baduta). Sasaran lainnya termasuk keluarga yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi layak, air bersih, dan rumah layak huni.
Yudhi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah bekerja keras menurunkan angka stunting di Kabupaten Tulang Bawang Barat.
“ Kami mengajak semua pihak untuk tetap semangat dan optimis dalam mendukung percepatan penurunan stunting demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang,”imbuhnya (rsd)