Musim Penghujan, Bandar Lampung Potensi Dikepung Banjir

Rabu, 7 Desember 2022 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung (dinamik.id)–Banjir yang merupakan bencana ekologis itu, bukan lagi menjadi peristiwa baru, lebih tepatnya sudah menjadi peristiwa langganan, karena terjadi berkali-kali.

Masyarakat pun seakan sudah terbiasa dan seperti tak berharap lagi ada penanganan serius dari pemerintah.

Memasuki pertengahan November 2022 saja, di Wilayah Bandar Lampung kerap dilanda Banjir. Seperti yang diketahui, banjir merupakan bencana ekologis yang paling sering terjadi di kota Sai Bumi Rua Jurai ketimbang bencana-bencana alam yang lain.

Jika terjadi hujan, masyarakat akan menemukan genangan air hingga selutut orang dewasa bahkan lebih, seperti di daerah Kaliawi, Kemiling, Nyunyai dan Sukarame adalah sederet titik di Bandar Lampung yang sering mengalami banjir.

Hal ini tentu harus mendapat perhatian serius dari pemerhati lingkungan, masyarakat dan pemerintah, apalagi per November sudah memasuki musim penghujan.

Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung memprakirakan sebagian wilayah di Provinsi Lampung mulai memasuki musim penghujan dari akhir September, termasuk wilayah Bandar Lampung.

Baca Juga :  Polres Tulang Bawang Barat Gelar Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-94 Tahun 2022

BMKG mencatat awal puncak musim penghujan diprakirakan mulai November 2022 hingga Januari 2023.

Meski, penghujan di satu sisi membawa dampak positif seperti kesuburan tanah, mengatasi kekeringan hingga mengurangi kebakaran lahan. Akan tetapi hujan dengan curah yang tinggi kerap mendatangkan bencana alam seperti longsor dan banjir.

Belakangan ini, banjir marak kembali dikeluhkan oleh masyarakat bahkan di media sosial banyak beredar video-video yang memuat peristiwa langganan itu. Tak jarang juga bencana tersebut merenggut korban jiwa, bukan saja kerusakan fisik seperti bangunan hingga jembatan.

Jalan Pulang Sangiang, Kecamatan Sukarame misalnya, menurut pengakuan salah satu warga Ginem, jika hujan terjadi dalam waktu 10 menit saja luapan air akan meningkat, apalagi jika lebih dari 10 menit.

Ia mengaku sejak sepuluh tahun di tempat yang ia tinggali selalu mengalami banjir. Pemerintah beberapa kali datang dan menjanjikan akan memperbaiki, namun hingga kini belum ada langkah nyata. Ujarnya saat diwawancarai (28/11/22)

Baca Juga :  Desa Bagelan Persiapkan Lapak Dagangan di Pasar Dadakan

Terpisah, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) juga menanggapi peristiwa banjir yang kerap terjadi di Bandar Lampung. Menurut analisa Walhi pada tahun 2022 terdapat jumlah peningkatan banjir dari tahun sebelumnya.

Manajer Pengembangan Sumber Daya Organisasi (PSDO) Walhi Radian Anwar (ai) menilai peningkatan banjir dikarenakan alih fungsi ruang, beberapa wilayah yang ditetapkan sebagai resapan air dialihkan fungsinya.

Dari 33 bukit di Bandar Lampung, hanya tersisa 3 bukit, sementara yang lainnya dijadikan pertambangan dan mengalami kerusakan. Bukit menurutnya memiliki fungsi menangkap resapan air.

“Berbicara banjir pasti bersinggungan dengan hal lain, seperti bukit, pemukiman, resapan air, sungai dan persoalan sampah. Tetapi yang menjadi masalah pokok dari adanya banjir adalah alih fungsi ruang. Sehingga tidak tersedianya tangkapan atau resapan air,” terangnya pada 29 November 2022 lalu.

“Klaim dari pemerintah, kota Bandar Lampung memiliki ruang terbuka hijau sekitar 11 %, akan tetapi menurut analisa walhi hanya terdapat 8,45%. Hal itu jauh dari angka minimum untuk tangkapan air sebesar 30%,” tambahnya.

Baca Juga :  Gubernur Arinal Melantik dan Mengambil Sumpah Jabatan 105 Pejabat Administrator dan Pengawas

Walhi juga belum melihat keseriusan pemerintah kota untuk menambah ruang terbuka hijau. Padahal situasi di masyarakat sudah urgent karena mengalami banjir terus menerus dan memasuki musim penghujan.

Menurutnya adanya banjir karena terdapat kesalahan tata kelola dalam mengimplementasikan rencana tata ruang wilayah yang semestinya dijadikan sebagai tangkapan air justru dijadikan untuk kepentingan yang lain.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Budiman mengatakan, pihaknya melalui Satgas Kali tetap rutin dijalankan untuk membersihkan tempat yang terdampak banjir. Hal itu diungkapkannya saat diwawancarai oleh dinamik.id pada Rabu (07/12/22).

Langkah tersebut menurutnya juga, sebagai upaya mengantisipasi titik-titik yang rawan terkena banjir.

Merespon keluhan masyarakat yang kerap dilanda banjir ia menyampaikan “Masyarakat bisa mengajukan laporan ke pemerintah, setelah itu akan ditindak lanjuti oleh pihaknya,” tutupnya. (Sandi)

Berita Terkait

KPK Jadikan Program Pendidikan Antikorupsi Gubernur Lampung Percontohan
Ketua KPK Dorong Pendidikan Antikorupsi Lampung Jadi Pilot Project Daerah Lain
Pilkakon Waluyojati, Panitia Ingatkan Calon dan Timses Patuhi Aturan
Tiga Bocah Tewas Tenggelam di Bendungan Widara Payung Pringsewu
Rekanan Jalan Bulukarto–Mataram Diduga Abaikan Aturan, Terancam Dibongkar
Kekeringan Hingga Gagal Panen, Petani Pringsewu Tagih Janji Bupati
Pemkab Lampung Barat Lampaui Target Nasional, Capaian TLRHP BPK Tembus 84,09%
Realisasi Layanan DPMPTSP Lampung Barat Tembus 2.045 Hingga Agustus 2026, Optimalkan 4 Aplikasi Digital

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:34 WIB

KPK Jadikan Program Pendidikan Antikorupsi Gubernur Lampung Percontohan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Ketua KPK Dorong Pendidikan Antikorupsi Lampung Jadi Pilot Project Daerah Lain

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Tiga Bocah Tewas Tenggelam di Bendungan Widara Payung Pringsewu

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:07 WIB

Rekanan Jalan Bulukarto–Mataram Diduga Abaikan Aturan, Terancam Dibongkar

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Kekeringan Hingga Gagal Panen, Petani Pringsewu Tagih Janji Bupati

Berita Terbaru



Produk hasil kolaborasi PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 2 dan IPB University berbahan baku tandan kosong (tankos) kelapa sawit menjadi berbagai produk berbasis komposit ramah lingkungan (green composite). Serat tandan kosong dikembangkan menjadi material biomaterial bernilai tambah untuk berbagai kebutuhan, antara lain helm pengaman (safety helmet), sepatu, sandal, produk fesyen, hingga rompi antipeluru.

Ekonomi dan Kreatif

KEREN GUYZZ!!! PTPN I dan IPB Kembangkan Tankos Jadi Produk Komposit

Selasa, 6 Okt 2026 - 15:21 WIB