Bandar Lampung, (Dinamik.id) — Sahabat Difabel Lampung (SADILA) memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 yang dirangkai dengan perayaan tujuh tahun perjalanan organisasi melalui kegiatan Monolog Hari Disabilitas Internasional bertema “Rumah yang Bercerita: Tentang Cinta yang Menumbuhkan Empati dan Inklusi”.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025, bertempat di Gedung Teater Tertutup Dewan Kesenian Lampung (DKL), PKOR Way Halim, Kota Bandar Lampung.
Ketua Sahabat Difabel Lampung (SADILA), Etik Mudmainah, menyampaikan bahwa peringatan HDI tahun ini dikemas dengan pendekatan kekeluargaan dan edukatif.
Monolog dipilih sebagai media untuk mengedukasi orang tua sekaligus membangun pemahaman publik mengenai pentingnya empati, penerimaan, dan dukungan terhadap anak asuh SADILA. Selain monolog, kegiatan juga diisi dengan penampilan anak-anak SADILA untuk menampilkan minat dan bakat mereka.
“Melalui panggung ini, kami ingin anak-anak SADILA terbiasa tampil dan percaya diri. Panggung menjadi ruang belajar agar mereka tidak takut bertemu orang dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial,” ujar Etik Mudmainah.
Sebanyak 72 anak asuh SADILA tampil dalam kegiatan ini, berasal dari Bandar Lampung, Lampung Selatan, dan Kota Metro. Namun di balik perayaan tersebut, SADILA juga menyoroti masih terbatasnya pemenuhan hak penyandang disabilitas, khususnya pada akses pendidikan.
Saat ini, sekolah negeri yang ramah bagi penyandang disabilitas di Kota Bandar Lampung masih sangat terbatas dan belum sebanding dengan jumlah pendaftar setiap tahunnya. Selain itu, keterbatasan relawan aktif dan sumber pendanaan masih menjadi tantangan karena sebagian besar kerja pendampingan dilakukan secara sukarela.
Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Bandar Lampung, Dewi Mayang Suri Djausal, menegaskan bahwa isu disabilitas merupakan prioritas nasional yang harus diwujudkan secara nyata di daerah.
Menurutnya, penyandang disabilitas tidak boleh dipandang dari sisi keterbatasan, melainkan dari potensi dan talenta yang dimiliki.
“Isu disabilitas sudah masuk dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Pemerintah kota harus merealisasikan program inklusi secara konkret, mulai dari infrastruktur ramah disabilitas, pelayanan publik yang inklusif, hingga akses pendidikan dan kesehatan,” ujar Dewi Mayang Suri Djausal.
Momentum peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 dan tujuh tahun perjalanan SADILA diharapkan menjadi pengingat bahwa inklusi tidak cukup berhenti pada perayaan simbolik, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak, dukungan masyarakat, serta ruang-ruang aman bagi penyandang disabilitas untuk tumbuh dan berpartisipasi setara dalam kehidupan sosial. (Amd)












