Tetesan sosok Darah Pejuang : Keteguhan H. Nauval Melanjutkan Warisan Nilai dari orang tuanya

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung, (Dinamik.id) — Sejarah sering kali tidak hanya tercatat dalam buku atau arsip negara. Ia juga hidup dalam nilai, karakter, dan pilihan hidup generasi setelahnya. Hal itu terlihat dalam sosok Drs. H. Nauval, Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bandar Lampung, yang merupakan putra dari salah satu pelaku sejarah perjuangan di Lampung, H. Ibrahim Magad.

 

Bagi Nauval, nama ayahnya bukan sekadar bagian dari sejarah keluarga. Ia adalah sumber inspirasi tentang bagaimana seseorang harus bersikap dalam menghadapi tantangan kehidupan.

 

“Sejak kecil saya selalu mendengar cerita perjuangan ayah. Bagi beliau, perjuangan itu bukan hanya soal perang, tetapi tentang keberanian memegang prinsip,” ujar Nauval saat berbincang mengenai perjalanan hidupnya, Rabu (11/3/2026).

 

*Warisan Sejarah dari Pejuang Lampung*

 

Dalam catatan sejarah perjuangan di Lampung, H. Ibrahim Magad merupakan bagian dari Laskar Hizbullah yang berdiri di Telukbetung pada awal 1946.

 

Organisasi ini dibentuk untuk menghimpun kekuatan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah.

 

Dalam struktur organisasi tersebut, Ibrahim Magad dipercaya sebagai Kepala Staf Resimen II Divisi Tuanku Muda VII. Bersama para pejuang lain, ia terlibat dalam berbagai strategi pertahanan serta perlawanan terhadap agresi Belanda daerah teluk betung, pesawaran dan Way ratai di wilayah Lampung.

 

Perjuangan itu tidak selalu berlangsung dalam kondisi mudah. Pasukan Hizbullah dan berbagai laskar lainnya kerap harus bergerilya, berpindah dari satu wilàyah ke wilayah lain, bahkan bertahan di wilayah-wilayah pedalaman untuk menghindari serangan tentara Belanda.

Baca Juga :  Waspada Politisasi ASN!

 

Kisah-kisah perjuangan itulah yang kemudian membentuk nilai kehidupan yang diwariskan kepada anak-anaknya, termasuk Nauval anak ke-12.

 

“Yang paling saya ingat dari ayah adalah keteguhan sikapnya. Ia tidak pernah mengajarkan kami untuk mencari pujian, tetapi selalu menekankan untuk melakukan sesuatu yang benar,” kata Nauval, sembari menceritakan kisah perjuangan ayahnya yang di arsipkan dalam catatan ” Bunga Rampai DHD’ 45 Lampung.

 

*Dari Anak Pejuang Menjadi Pendidik*

 

Jika ayahnya berjuang di medan perjuangan fisik, Nauval memilih jalan pengabdian melalui dunia pendidikan.

 

Lahir di Teluk Betung pada 21 November 1967, Nauval menempuh pendidikan hingga meraih gelar sarjana di FKIP Universitas Lampung.

 

Kariernya sebagai pendidik kemudian berkembang hingga dipercaya memimpin sejumlah madrasah di Lampung. Ia pernah menjabat sebagai Kepala MAN 1 Kalianda, MAN 1 Kedondong, MAN 1 Pringsewu, hingga MAN 1 Tanggamus sebelum akhirnya dipercaya menjadi Kepala MAN 2 Bandar Lampung.

 

Selain di dunia pendidikan, anak ke-12 ini juga aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, termasuk di lingkungan Nahdlatul Ulama serta organisasi kepemudaan di Lampung.

 

Bagi Nauval, kepemimpinan dalam dunia pendidikan adalah bentuk perjuangan yang berbeda dari generasi ayahnya.

Baca Juga :  Regulasi Calon Kepala Daerah

 

“Kalau dulu orang tua kami berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka generasi sekarang harus berjuang membangun kualitas manusia,” ujarnya.

 

*Memimpin Madrasah dengan Semangat Inovasi*

 

Di bawah kepemimpinan Nauval, MAN 2 Bandar Lampung dikenal aktif mengembangkan berbagai ainovasi pendidikan. Salah satu yang mendapat perhatian adalah inovasi konversi motor menjadi vespa listrik yang berhasil meraih penghargaan dalam Rapat Kerja Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung.

 

Menurut Nauval, inovasi tersebut lahir dari semangat untuk membuktikan bahwa madrasah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

 

“Kami ingin menunjukkan bahwa madrasah tidak hanya kuat dalam pendidikan agama, tetapi juga mampu melahirkan kreativitas dan inovasi teknologi,” katanya.

 

Prestasi akademik juga menjadi perhatian utama. Dalam 2 tahun terakhir meloloskan capaian terbanyak lewat jalur SPANPTKIN dan sebagian besar lulusan MAN 2 Bandar Lampung berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri jalur SNBP dan Mandiri di berbagai daerah.

 

Bagi Nauval, keberhasilan siswa tentunya bukan hasil dari diri nya tetapi berkat didikan dr guru guru yg dipimpinnya. Capaian keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga penguatan dari karakter yang mereka harus di miliki generasi yg akan datang sehingga nilai nilai luhur para pendiri bangsa tetap terjaga sepanjang masa.

 

“Sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai, tetapi tempat tumbuhnya nilai-nilai kehidupan,” tegasnya.

Baca Juga :  Hari Tani Nasional 2025 – Lampung sebagai Lokomotif Hilirisasi Pangan untuk Indonesia Emas

 

*Teguh pada Prinsip, Bekerja Tanpa Mencari Pujian*

 

Dalam kehidupan sehari-hari, Nauval dikenal sebagai sosok yang sederhana dan teguh pada prinsip.

 

Ia percaya bahwa melakukan sesuatu tidak harus selalu disertai dengan keinginan untuk mendapatkan pengakuan.

 

“Kalau kita melakukan sesuatu yang baik, lakukan saja. Tidak perlu menunggu orang lain memuji,” katanya.

 

Prinsip itu, menurutnya, adalah pelajaran paling berharga yang ia dapatkan dari ayahnya.

 

Nilai perjuangan tidak selalu diwariskan dalam bentuk jabatan atau kekuasaan, tetapi dalam sikap hidup yang terus dipegang.

 

*Melanjutkan Semangat Perjuangan*

 

Bagi Nauval, sejarah perjuangan ayahnya bukanlah sekadar kebanggaan masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa setiap generasi memiliki bentuk perjuangannya sendiri.

 

Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan senjata di medan perang, maka hari ini perjuangan hadir dalam bentuk lain,yakni dengan mencerdaskan generasi muda, membangun karakter, dan menjaga nilai-nilai kejujuran serta integritas.

 

“Perjuangan itu tidak pernah berhenti. Hanya bentuknya saja yang berubah,” ujarnya.

 

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, keteguhan sikap seperti inilah yang membuat warisan perjuangan tetap hidup.

 

Dan dalam diri Nauval, tetesan darah seorang pejuang Lampung itu terus mengalir, bukan lagi di medan perang, tetapi di ruang-ruang pendidikan tempat generasi masa depan ditempa. (Amd)

Berita Terkait

Dari Kelas yang Mengajar ke Kelas yang Berdialog: Reorientasi Pendidikan Demokrasi di Indonesia
Bandar Lampung dalam Kepungan Banjir : Krisis Ekologi Perkotaan dan Kegagalan Tata Kelola Lingkungan
Pengambilan Keputusan Keuangan yang Tepat: Kunci Sehatnya Keuangan Perusahaan
Budiyono: Sang Intelektual Organik!
Hari Tani Nasional 2025 – Lampung sebagai Lokomotif Hilirisasi Pangan untuk Indonesia Emas
Zero Accident BGN Masih Omon-Omon?
Demokrasi Indonesia di Ujung Tanduk: Saatnya Reformasi Total
Student Loan: Solusi Adil bagi Kelompok Rentan dalam Dunia Pendidikan yang Timpang

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:42 WIB

Dari Kelas yang Mengajar ke Kelas yang Berdialog: Reorientasi Pendidikan Demokrasi di Indonesia

Kamis, 12 Maret 2026 - 17:43 WIB

Tetesan sosok Darah Pejuang : Keteguhan H. Nauval Melanjutkan Warisan Nilai dari orang tuanya

Sabtu, 7 Maret 2026 - 17:10 WIB

Bandar Lampung dalam Kepungan Banjir : Krisis Ekologi Perkotaan dan Kegagalan Tata Kelola Lingkungan

Rabu, 24 Desember 2025 - 13:23 WIB

Pengambilan Keputusan Keuangan yang Tepat: Kunci Sehatnya Keuangan Perusahaan

Senin, 20 Oktober 2025 - 20:45 WIB

Budiyono: Sang Intelektual Organik!

Berita Terbaru