Di Balik Polemik MBG, Relawan Dapur Terdampak: Penghasilan Hilang, Harap Program Jalan Lagi

Senin, 22 Juni 2026 - 17:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung, (dinamik.id) — Di tengah desakan publik untuk menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) imbas dugaan korupsi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN), ribuan massa justru memadati kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung, menyuarakan agar program tersebut tetap dilanjutkan.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Lampung Dukung MBG (AMAL MBG) menilai program MBG tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga berdampak besar terhadap kesejahteraan warga dan penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga :  MBG Itu Soal Ketahanan Pangan, Kesejahteraan Petani, Pemberdayaan UMKM, dan Masa Depan Ekonomi Daerah: Jangan Stop MBG!!!

Selain mendukung keberlanjutan program, massa juga meminta pemerintah tegas menutup dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti bermasalah.

“Pak Prabowo, MBG Jangan di hentikan, MBG harus lanjut,” ujar ibu-ibu relawan dari SPPG Bakung.

Di sisi lain, penghentian sementara sejumlah aktivitas dapur mulai dirasakan dampaknya oleh para relawan. Seorang ibu relawan yang bekerja sebagai pencuci ompreng mengaku kini terpaksa menganggur sejak produksi dihentikan.

Baca Juga :  Galian C di Sabah Balau Diduga Ilegal dan Meresahkan, Aktivis Minta Pemkab Tertibkan

“Biasanya saya cuci ompreng. Sekarang menanggur. Kami takut kalau program ini dihentikan, kami benar-benar menganggur lagi,” imbuhnya

Ia menilai keberadaan dapur MBG selama ini sangat membantu masyarakat sekitar, terutama ibu-ibu, karena mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Baca Juga :  Mikdar Ilyas : Oknum Luluskan PPDB Langgar Aturan Harus Disanksi Berat!!!

Selain itu, Ia juga berharap dapur-dapur SPPG tetap menjaga kualitas makanan yang disajikan, karena dirinya merupakan seorang ibu yang juga memiliki anak dan sangat memperhatikan kelayakan makanan yang dikonsumsi.

“Kalau bisa makanannya benar-benar layak, karena saya juga punya anak. Jadi kami berharap tetap dijaga kualitasnya,” pungkasnya. (Amd)

Penulis : Ahmad Mufid

Editor : Pina

Berita Terkait

Akademisi Lampung Sebut Sekda Miliki Keunggulan Kontinuitas Menjadi Pj Kepala Daerah
Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi dari Kebun ke Cangkir
Peneliti BRIN Usulkan Sekda Jadi Pj Kepala Daerah pada Pemilu Lokal 2031
Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan
Arsip Dokumentasi Bersejarah Museum Lampung Ditemukan Terbengkalai di Area Belakang Gedung
Kasus Dugaan Penggelapan Mobil Mewah Anggota DPRD Bandar Lampung YI Naik Penyidikan
Komisi III Perkuat Pengawasan APH Cegah Penyalahgunaan Kewenangan RUU Perampasan Aset
36 Tahun HUMANIKA: Aktivis Berpencar, Solidaritas Tetap Menyala

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Akademisi Lampung Sebut Sekda Miliki Keunggulan Kontinuitas Menjadi Pj Kepala Daerah

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi dari Kebun ke Cangkir

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:07 WIB

Peneliti BRIN Usulkan Sekda Jadi Pj Kepala Daerah pada Pemilu Lokal 2031

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan

Selasa, 29 September 2026 - 06:01 WIB

Arsip Dokumentasi Bersejarah Museum Lampung Ditemukan Terbengkalai di Area Belakang Gedung

Berita Terbaru



Produk hasil kolaborasi PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 2 dan IPB University berbahan baku tandan kosong (tankos) kelapa sawit menjadi berbagai produk berbasis komposit ramah lingkungan (green composite). Serat tandan kosong dikembangkan menjadi material biomaterial bernilai tambah untuk berbagai kebutuhan, antara lain helm pengaman (safety helmet), sepatu, sandal, produk fesyen, hingga rompi antipeluru.

Ekonomi dan Kreatif

KEREN GUYZZ!!! PTPN I dan IPB Kembangkan Tankos Jadi Produk Komposit

Selasa, 6 Okt 2026 - 15:21 WIB