BMKG Identifikasi Sebaran Abu Vulkanik GAK dari Banten, DKI Jakarta, Lampung hingga Bengkulu

Minggu, 6 September 2026 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berdasarkan analisis citra satelit BMKG pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

i

Berdasarkan analisis citra satelit BMKG pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Jakarta, (dinamik.id)–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Melalui siaran persnya, Minggu (6/9), Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang bergerak cepat dengan menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET, adalah peringatan dini untuk cuaca penerbangan) pertama sesaat setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Hingga saat ini, BMKG telah menerbitkan sebanyak 50 SIGMET secara berkala guna menjamin keselamatan navigasi udara.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).

Lebih lanjut, Andri menjelaskan bahwa abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Baca Juga :  Waspada Gelombang Tinggi di 22 Daerah Indonesia, Lampung Salah Satunya

Terkait hal ini, berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM, adalah pemberitahuan resmi penting mengenai penerbangan) yang diterbitkan Perum LPPNPI/Airnav pada 6 September, terdapat penutupan sementara operasional Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Bandar Udara Radin Inten II, dan Bandar Udara Budiarto pada waktu yang berbeda. Kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan.

Langkah penutupan sementara bandar udara akibat sebaran abu vulkanik GAK merupakan hasil kolaborasi dan keputusan bersama seluruh stakeholders penerbangan nasional. Keputusan strategis ini diambil oleh Otoritas Bandar Udara melalui koordinasi intensif bersama BMKG, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia), serta para pengelola bandar udara yang mencakup Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas setempat, dan TNI. Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan darurat yang diambil menempatkan keselamatan operasional penerbangan sebagai prioritas utama.

Baca Juga :  Penanganan Dampak Inflasi, Pemkab Mesuji Beri Bantuan Beras Cadangan Pangan

Guna menyampaikan kebijakan operasional tersebut secara cepat dan akurat Perum LPPNPI mempublikasikan NOTAM sebagai pemberitahuan resmi yang bersifat mendesak mengenai perubahan kondisi operasional atau potensi bahaya penerbangan.

Penerbitan NOTAM ini melengkapi peringatan dini Volcanic Ash Advisory dan SIGMET yang dirilis secara berkala oleh BMKG, sehingga para pemangku kepentingan penerbangan dapat merespons perubahan situasi cuaca dan ruang udara secara terukur serta terkoordinasi.

Sensor Tsunami

Di sisi lain, Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07:00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut. Analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas tsunami pada saat tersebut berada di tingkat rendah (di bawah 40 persen), dengan tinggi gelombang laut yang terjaga di kisaran satu meter.

“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intesitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujarnya.

Baca Juga :  Topik Sanjaya: Program Negara Tak Boleh Dibayar dengan Nyawa Rakyat

Guna mengantisipasi dampak dinamika erupsi GAK, BMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui skema pemantauan terpadu berbasis multi-instrument secara nonstop selama 24 jam penuh. Pendekatan lintas instrumen ini bersinergi dengan analisis dari PVMBG-Badan Geologi guna menyajikan data yang presisi, cepat, dan akurat, sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mendukung pengambilan keputusan serta menjaga keselamatan penerbangan dan wilayah pesisir Selat Sunda.

BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang beraktivitas dan bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang. Masyarakat diminta untuk menyaring seluruh informasi yang beredar dan tidak mudah terpengaruh atau menyebarluaskan isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya.

Untuk mendapatkan pembaruan kondisi secara real-time, masyarakat dapat merujuk pada saluran komunikasi resmi yang dirilis secara berkala oleh BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta instansi pemerintah berwenang setempat. (Eka)

Editor : Eka Setiawan

Berita Terkait

PWI se Lampung Tegaskan Komitmen Sukseskan Konferensi dan Kick Of HPN Porwanas
Aris Tama, S.H. Dukung Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Berantas Kampung Narkoba: Bongkar Bandar, Selamatkan Generasi Muda
Akademisi Unila: Penghalangan Pers Berpotensi Hambat Komunikasi Publik
Ketua Karang Taruna Lampung Instruksikan Jajaran Siaga Sikapi Erupsi GAK
Akademisi Lampung Sebut Sekda Miliki Keunggulan Kontinuitas Menjadi Pj Kepala Daerah
Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi dari Kebun ke Cangkir
Peneliti BRIN Usulkan Sekda Jadi Pj Kepala Daerah pada Pemilu Lokal 2031
Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Aris Tama, S.H. Dukung Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Berantas Kampung Narkoba: Bongkar Bandar, Selamatkan Generasi Muda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:44 WIB

Akademisi Unila: Penghalangan Pers Berpotensi Hambat Komunikasi Publik

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Ketua Karang Taruna Lampung Instruksikan Jajaran Siaga Sikapi Erupsi GAK

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Akademisi Lampung Sebut Sekda Miliki Keunggulan Kontinuitas Menjadi Pj Kepala Daerah

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi dari Kebun ke Cangkir

Berita Terbaru

Provinsi

Wira dan Adi Jadi Kandidat Pertama di Penjaringan PWI Lampung

Senin, 19 Okt 2026 - 16:38 WIB

Bisnis

PTPN I Perkuat Hilirisasi Kopi Ijen Tingkatkan Daya Saing

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:52 WIB