Metro, (dinamik.id) — Komunitas Ruang Pojok bekerja sama dengan Lampung Literature menyelenggarakan kegiatan Ngaji Bahasa: Membaca Nusantara #3, berupa silaturahmi dan diskusi buku puisi Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2025, di sekretariat Komunitas Ruang Pojok, Jalan Penyu RT 020 RW 008, Kelurahan Yosodadi, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Provinsi Lampung.
Dalam kegiatan tersebut, Ari Pahala Hutabarat hadir sebagai penulis berbagi gagasan dan proses kreatif di balik buku puisinya Nusantara, Amnesia.
Diskusi dipandu secara santai dalam format ngobrol bersama oleh Solihin Utiok, yang mampu membuka ruang dialog yang cair antara penulis dan peserta.
Dalam pemaparannya, Ari Pahala Hutabarat menerangkan proposisi utama buku puisi tersebut.“Kita (masyarakat Indonesia) sedang mengalami amnesia secara kolektif. Kita tengah melupakan ‘ibu’ kita—Nusantara,” ujarnya.
Ari menambahkan bahwa dalam buku tersebut ia menuangkan bacaan subjektifnya atas data sejarah Nusantara dari masa ke masa, sejak kedatangan penjajah hingga saat ini.
Ari menjelaskan bahwa kegelisahan tersebut salah satunya dipicu oleh narasi resmi negara yang kembali menggaungkan kejayaan jalur rempah beberapa waktu lalu.
Narasi tersebut menyebut Nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia karena kekayaan hasil bumi, khususnya rempah-rempah.
“Pertanyaannya sederhana,” kata Ari, “apakah karena kita pernah menjadi penghasil rempah terbesar di dunia, lantas itu otomatis berarti kita pernah jaya?”Di sinilah, menurut Ari, letak amnesia itu bekerja.
Kegiatan ini berlangsung khidmad dan memantik Diskusi panjang, hal itu tampak dari 4 penanggap, yang menyoal proses kreatif, masalah utama dalam buku, serta isu sosial yang belakangan ini relevan dengan buku ini.
Disesi penutub Solihin Utjok mengajak semua peserta yang hadir untuk mengapresiasi karya dan kegiatan. Ia menyampaikan Program Ngaji Bahasa “Membaca Nusantara #3” merupakan bagian dari upaya Komunitas Ruang Pojok dalam menghadirkan ruang Pertemuan alternatif guna mendorong pembacaan kritis terhadap sejarah, bahasa, dan ingatan kolektif Nusantara melalui karya sastra.
Melalui diskusi buku puisi ini, peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman kebudayaan dan narasi-narasi yang kerap terpinggirkan untuk dibicarakan ulang. (*)











