Inspirasi Dari Pulau Kenari

Kamis, 20 Mei 2021 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

foto pengurus GMKI

Bencana di negeri seperti refren lagu, terus berulang. Selain Covid-19 ada rentetan bencana alam juga menyertai kita. Yang terbaru sejak awal tahun ini setiap bulan kita dilanda peristiwa alam itu.
Namun, mayoritas masyarakat kita lebih suka mengurusi urusan negara lain.

Gajah yang kelaparan dilahan sendiri tak dilihat sementara unta yang rebutan makanan diseberang samudra lebih menarik perhatian. Menjelang 76 tahun merdeka + 113 Kebangkitan Nasional bangsa ini cukup lihai mengurusi rumah tangga orang. Niatnya mau selingkuh tapi malu-malu kucing.
Mengecam lalu mengutuk. Sementara di sana roket tetap diluncurkan. Langkah konkretnya hanya mengutuk lalu mengecam. Mengklaim diri paling toleran, tapi tiap hari penuh hujatan.

Masalah Israel vs Palestina. Indonesia yang paling sibuk. Saking sibuknya sampai konflik yang bukan agama, di Indonesia jadi konflik agama. Agama jadi alat penghakiman dan caci maki.
Tetangga sebelah sibuk merangkai mimpi mencapai bulan, kita sibuk merangkai kata mengumbar janji.
Saking sibuk urusi Israel vs Palestina, 3 peristiwa kemanusiaan dalam negeri seperti lambat penanganan, Bahkan media pun seakan melupakan.

ADVERTISEMENT

adddinamik

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertama, masalah Papua yang sudah lama menumpuk, kita secara budaya seperti sudah tak saling percaya. Sepertinya setengah hati mencari jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan Papua.

Baca Juga :  Anggota Fraksi PDIP Apriliani Dukung KBM Tatap Muka Bertahap

Kedua, menjelang Idul Fitri 1442 H, 13 Mei 2021 tepatnya 11 Mei 2021 ada 4 warga poso tewas dibunuh kelompok teroris MIT.

Ketiga, badai siklon tropis seroja yang mengguncang NTT pada awal bulan April lalu tampak memporak-porandakan bangunan fisik maupun psikis masyarakat.

Pada poin yang terakhir ini, saya ingin membagikan pengalaman ketika sedang berkunjung ke Kabupaten Alor.
Di daerah Alor, keganasannya terlihat karena menghancurkan rumah-rumah warga. Fasilitas seperti sekolah dan rumah ibadah rusak dan runtuh. Bahkan kelihatannya hampir rata dengan tanah. Tidak sedikit warga juga yang ditemukan meninggal akibat diterpa badai, banjir, longsor serta tertimpa reruntuhan bangunan.

Badai yang melanda saudara/i kita di Alor dan daerah lainnya di NTT tentu meninggalkan luka dan traumatik mendalam. Pengalaman kebencanaan ini pastinya menggoreskan kisah kelam yang tersimpan dalam memori panjang masyarakat.
Sekarang, saudara/i kita sementara dalam tahapan pemulihan. Mereka tampak bergiat membersihkan puing-puing kehancuran. Bersemangat untuk membangun kembali fasilitas umum dan rumah huniannya. Termasuk berharap agar badai yang baru saja berlalu enggan datang kembali.

Yang paling memprihatinkan adalah gedung sekolah yang memang membutuhkan pembangunan secara total. Kenapa harus gedung sekolah? Karena ini kunci kemajuan masa depan yang sesuai dengan program pendidikan nasional ‘’ Merdeka Belajar.” Sembari mengusahakan proses pembangunan sebenarnya perpustakaan untuk pengadaan buku-buku, lalu buku-buku pelajaran untuk anak-anak sekolah, serta pelengkap seperti pakaian sekolah dan keperluan individu anak-anak.

Baca Juga :  PKM Unila Mendorong Desa Rajabasa Lama jadi Desa Mandiri dan Sentra Ikan

Saya terharu, karena masyarakatnya sendiri punya harapan yang besar kepada pemerintah baik daerah maupun pusat terlebih Menteri Pendidikan dan Kebudayaan – Riset dan Teknologi untuk memberikan bantuan saja khusus fasilitas pendidikan. Bagi mereka itu sudah lebih dari cukup. Kalau soal yang lain-lain mereka bisa berusaha dan bangkit perlahan-lahan.
Harapan itu terasa kuat terpancar dari wajah anak-anak bangsa yang sementara belajar di sekolah darurat itu.

Bahwa bencana tidak akan menyulut cita-cita mereka. Bahwa badai itu tidak sepenuhnya meluluhlantakkan niatan besar untuk terus belajar dan menimba ilmu. Api optimisme menatap masa depan tetap menyala di samping musibah dan keterbatasan fasilitas yang ada.  

Kata Paulo Coelho: “Bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan.”
Kalau ngaku bangsa gotong royong, ayo bergerak bersama. Kolaborasi menumbuhkan harapan.

Ut Omnes Unum Sint
 
Alor, 20 Mei 2021
Jefri Gultom
Ketua Umum PP GMKI

Berita Terkait

Pelabuhan Pelindo 2 Panjang Raih Peringkat Kedua Terbaik Tingkat Regional
Ismet Roni: Golkar Lampung Konsolidasi Menangkan Arinal Djunaidi
Tiga Kades di Lamsel Dukung Pembangunan Jalan Cor Swadaya Masyarakat
Recaka Musik Lampung Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Lokal
Sukses! Nanang Ermanto dan Winarni Terima Tanda Penghargaan
FKPPIB Nilai Rekrutmen BUMN 2024 Tak Transparan
Puskeskel Kampung Baru Raya Hentikan Fogging Gratis, Warga Kecewa
Kasus Kematian Siswi SMK di Mesuji, Polisi Periksa 22 Saksi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juli 2024 - 14:46 WIB

Pelabuhan Pelindo 2 Panjang Raih Peringkat Kedua Terbaik Tingkat Regional

Jumat, 12 Juli 2024 - 16:42 WIB

Ismet Roni: Golkar Lampung Konsolidasi Menangkan Arinal Djunaidi

Senin, 8 Juli 2024 - 17:43 WIB

Tiga Kades di Lamsel Dukung Pembangunan Jalan Cor Swadaya Masyarakat

Selasa, 2 Juli 2024 - 11:30 WIB

Recaka Musik Lampung Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Lokal

Senin, 1 Juli 2024 - 13:08 WIB

Sukses! Nanang Ermanto dan Winarni Terima Tanda Penghargaan

Berita Terbaru

Pendidikan

10 Mahasiswa UIN RIL Ikuti KKN Melayu Serumpun V di Aceh

Minggu, 21 Jul 2024 - 16:06 WIB

Pendidikan

Unila Luluskan Dua Mahasiswa Asing Berprestasi Asal Yaman

Minggu, 21 Jul 2024 - 15:01 WIB

Tulangbawang Barat

Seminar Nasional Sinergi Bank Sampah Dorong Pengurangan Sampah di Lampung

Sabtu, 20 Jul 2024 - 17:18 WIB