Bandar Lampung, (dinamik.id) — Kelompok Studi Kader (KLASIKA) Lampung kembali menggelar Majelis Jum’at Klasika dengan mengangkat tema “Jalan Panjang Menuju Keadilan Ekologis”. Diskusi ini digelar sebagai respons atas berbagai bencana ekologis yang terjadi dan kerap dipahami semata sebagai peristiwa alam, tanpa menyinggung peran kebijakan, tata kelola sumber daya, dan sistem pembangunan yang turut membentuk kerentanan lingkungan.
Direktur KLASIKA, Ahmad Mufid, menjelaskan bahwa diskusi kali ini menyoroti akar sistemik bencana ekologis.
“Majelis ini mengajak publik melihat bahwa bencana bukan sekadar amukan alam, tetapi juga konsekuensi dari kebijakan, tata ruang, dan eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Subtema diskusi, “Bencana Ekologis: Alam Menghukum atau Sistem yang Gagal?”, diharapkan mendorong peserta untuk menelisik hubungan antara keputusan manusia dan dampak ekologis yang muncul.
Mufid menekankan pentingnya memahami bencana sebagai persoalan struktural, bukan sekadar fenomena alam yang tak terelakkan.
Lebih lanjut, Mufid menyampaikan kegiatan akan dilaksanakan pada Jum’at, 19 Desember 2025, pukul 18.30 WIB, bertempat di Rumah Ideologi Klasika.
“Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi ruang dialog inklusif bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap isu keadilan ekologis,” katanya.
Selain itu, Mufid juga menjelaskan bahwa Majelis Jum’at Klasika bukan hanya forum diskusi intelektual, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan, pengalaman, dan kegelisahan bersama.
Melalui diskusi ini, Klasika ingin mendorong lahirnya kesadaran kolektif bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini bukan persoalan yang berdiri sendiri, melainkan erat kaitannya dengan pilihan-pilihan kebijakan dan arah pembangunan.
“Selama ini, bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga krisis air sering dipahami sebagai bencana alam yang tak terelakkan,” imbuhnya.
Menurut Mufid, alam pun kerap diposisikan sebagai pihak yang “menghukum” manusia melalui peristiwa tersebut. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, hampir seluruh bencana ekologis memiliki keterkaitan kuat dengan aktivitas dan keputusan manusia.
“Alih fungsi lahan yang tak terkendali, eksploitasi sumber daya alam tanpa batas, serta tata ruang yang tunduk pada kepentingan modal menjadi faktor dominan yang memperparah kerentanan ekologis,” tegasnya.
Diskusi kali ini akan menghadirkan Irfan Tri Musri, Direktur WALHI Lampung, sebagai narasumber. Majelis Jum’at Klasika mengajak publik untuk memahami bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi persoalan sistemik yang memerlukan refleksi kritis dan aksi kolektif. (Amd)












