Lampung Timur, (dinamik.id) — Upaya membuka akses jagung pakan dengan harga terjangkau bagi peternak ayam petelur mikro di Provinsi Lampung mendapat perhatian Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki atau yang akrab disapa Abas.
Hal tersebut terkait peluncuran penyerahan bantuan subsidi Jagung SPHP untuk peternak ayam petelur mikro di Lampung Timur yang dapat mengakses jagung pakan dengan harga Rp5.000 per kilogram.
Abas menilai akses terhadap jagung dengan harga terjangkau merupakan langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat. Terlebih, Lampung merupakan salah satu sentra produksi jagung nasional sekaligus memiliki basis peternak rakyat yang cukup besar.
Menurutnya, ketersediaan jagung dengan harga terjangkau menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efisiensi biaya produksi peternakan, khususnya ayam petelur dan ayam pedaging.
“Ini merupakan langkah positif yang perlu kita apresiasi. Peternak mikro membutuhkan dukungan nyata, terutama dalam mendapatkan bahan baku pakan dengan harga yang terjangkau. Akses jagung Rp5.000 per kilogram tentu menjadi kabar baik apabila dapat dijalankan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak peternak,” ujar Abas.
Ia mengatakan, persoalan harga pakan selama ini menjadi salah satu tantangan utama bagi peternak rakyat. Komponen pakan memiliki pengaruh besar terhadap biaya produksi, sehingga perubahan harga bahan baku dapat berdampak langsung terhadap keuntungan usaha peternakan.
Karena itu, Abas mendorong agar akses jagung pakan dengan harga terjangkau tersebut tidak hanya dinikmati oleh kelompok peternak tertentu, tetapi dapat diperluas ke berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.
Lampung Harus Menjadi Prioritas
Abas menilai Lampung memiliki posisi strategis dalam kebijakan jagung nasional. Sebagai salah satu daerah penghasil jagung, Lampung tidak hanya berperan sebagai pemasok kebutuhan jagung nasional, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan sektor peternakan rakyat di daerah sendiri.
“Jangan sampai kita menjadi daerah penghasil jagung, tetapi peternak kita justru kesulitan mendapatkan bahan baku pakan. Petani jagung harus sejahtera, tetapi peternak rakyat juga harus mendapatkan perlindungan,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah, Perum Bulog, serta instansi terkait untuk memperkuat koordinasi dalam memastikan ketersediaan dan distribusi jagung pakan melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
Menurut Abas, pelaksanaan program Jagung SPHP perlu memperhatikan kebutuhan riil peternak rakyat, khususnya peternak mikro dan kecil yang memiliki keterbatasan modal serta daya beli dibandingkan perusahaan peternakan berskala besar.
Selain harga yang terjangkau, mekanisme pembelian juga harus dibuat sederhana, transparan, dan mudah diakses. Pendataan peternak, kepastian volume pasokan, serta pemerataan distribusi menjadi hal penting agar program benar-benar tepat sasaran.
Bangun Ekosistem Petani dan Peternak
Lebih jauh, Abas menegaskan bahwa kebijakan jagung tidak boleh hanya dilihat dari sisi produksi dan perdagangan komoditas, tetapi harus ditempatkan dalam satu ekosistem ketahanan pangan yang saling terhubung.
Petani jagung membutuhkan kepastian pasar dan harga jual yang layak. Sementara peternak membutuhkan kepastian pasokan bahan baku pakan dengan harga yang kompetitif. Keduanya harus mendapatkan perhatian yang seimbang.
“Kita ingin membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Petani jagung mendapatkan kepastian pasar, peternak mendapatkan bahan baku yang terjangkau, dan masyarakat memperoleh produk pangan seperti telur dan daging ayam dengan harga yang wajar,” jelasnya.
Abas berharap keberhasilan membuka akses jagung pakan bagi peternak mikro di Lampung Timur dapat menjadi praktik baik yang dikembangkan lebih luas di Provinsi Lampung.
“Jangan berhenti di satu wilayah atau kelompok peternak saja. Kalau mekanismenya terbukti baik, kita dorong agar diperluas dan berkelanjutan. Lampung harus menjadi daerah yang kuat dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi jagung sampai penguatan peternakan rakyat,” pungkasnya. (AMD)










