Tanggamus (dinamik.id)-Semilir angin pagi Selasa (5/5) menemani langkah ku untuk menyaksikan langsung potret pendidikan di tanah kelahiran. Satu persatu, guru datang ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus.
Demikian juga para siswanya. Senyum penuh semangat tampak dari raut para siswa. Tanda mereka antusias untuk menimba ilmu di bangku sekolah. Walaupun, kondisi sekolah mereka amat jauh berbeda dengan sekolah di pusat kabupaten.
Masih melekat dalam ingatan kita tema peringatan HUT RI ke 80. Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju. Namun di usia ini, masih ada sekolah dasar berdinding papan lapuk. Tepat 2 Mei lalu kita baru saja mempringati hari pendidikan nasional. Namun, keadilan pendidikan masih belum dirasa di SDN 1 Tanjung Raja, Tanggamus.
Prihatin memang. Sebab, atap seng tampak berkarat dan bolong. Ketika hujan turun, siswa dan guru terpaksa belajar sambil menghindari percikan dan dalam genangan air.
Celakanya, 22 tahun sudah sekolah ini berdiri. Sudah satu generasi anak bangsa yang menimba ilmu di sekolah dasar ini. Tapi hebat, sekolah dasar ini tetap menjadi tempat menyalurkan ilmu bagi anak di tengah keterbatasan fasilitas yang jauh panggang dari layak.
Raut wajah para pendidik dan siswa tampak amat penuh pengharapan. Mereka menginginkan keadilan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak.
Satire memang ketika penggiat media sosial turun memberikan bantuan berupa susu, buku tulis, dan makanan ringan. Bahkan mereka berkomitmen untuk membantu pembangunan sekolah bersama masyarakat.
Apriana, guru di SDN 1 Desa Tanjung Raja, mengungkapkan sudah selama 18 tahun mengajar, belum pernah mendapat bantuan pembangunan dari pemerintah.
“Selama 18 tahun saya mengajar sampai hari ini belum pernah ada perhatian dan bantuan pembangunan dari pemerintah,” kata Apriana, Kamis (30/4).
Ia berharap SD ini dapat segera dibangun secara permanen agar siswa bisa belajar dengan lebih nyaman. Apalagi sekolah ini adalah sekolah dasar terdekat desa setempat.
“Kami berharap sekolah ini dapat dibangun permanen karena sudah puluhan tahun kondisinya tidak layak. Sangat penting, karena hanya ada sekolah ini di sini. SD lainnya jaraknya cukup jauh sekitar 10 kilometer,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Viktor Libradi, mengungkapkan alasan pihaknya belum dapat melakukan renovasi lantaran terkendala status lahan.
“Pemerintah belum bisa merenovasi karena status tanah sekolah belum berstatus hibah. Ini akan kami jadikan evaluasi dan segera dikoordinasikan. Pemerintah belum bisa merenovasi karena status tanah sekolah belum berstatus hibah,” ujarnya. (NAR/EKA)

Penulis : Naryo
Editor : Eka Setiawan









