Rumah Lunas Sejak 2002, Nasabah Pertanyakan BTN Tak Kunjung Berikan Sertifikat

Senin, 7 September 2026 - 23:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor BTN Bandar Lampung.

i

Kantor BTN Bandar Lampung.

Bandar Lampung (dinamik.id)-Pelayanan Bank Tabungan Negara (BTN) Jalan Wolter Monginsidi, Bandar Lampung dikeluhkan nasabah. Pasalnya, sertifikat rumah yang telah dilunasi nasabah sejak tahun 2002 hingga kini tak kunjung diserahkan kepada pemilik.

Pihak BTN hanya menyatakan kepada nasabah akan bertanggungjawab, tapi sampai saat ini nasabah tak juga mendapat kejelasan atas haknya.

Kejadian bermula dari proses take over rumah antara Nyonya Safarlin selaku pihak pertama dan Riduan Agus selaku pembeli. Dalam proses tersebut, Riduan Agus kemudian melanjutkan kewajiban kredit kepada BTN selaku pihak ketiga.

Seiring berjalannya waktu, Riduan Agus menyelesaikan seluruh angsuran kredit kepada BTN pada 2002. Setelah kredit dinyatakan lunas, Riduan Agus kemudian mendatangi kantor BTN di Jalan Wolter Monginsidi, Bandar Lampung, dengan maksud mengambil sertifikat rumah yang menjadi objek kredit.

Namun, menurut keterangan Riduan Agus, pihak bank menyampaikan bahwa sertifikat tersebut tidak ditemukan atau dinyatakan hilang.

Merasa dirugikan, Riduan Agus kemudian melayangkan surat kepada pihak BTN pada 19 September 2022 untuk meminta pertanggungjawaban atas keberadaan sertifikat tersebut.

Baca Juga :  Erick Thohir Ikut Kunjungan Presiden, Korwil II PP GMKI : Refleksi Kegagalan Menteri BUMN

Menurut Riduan Agus, pihak BTN saat itu menyatakan akan bertanggung jawab atas persoalan hilangnya sertifikat. Bahkan, Sukandar Sofian, yang disebut menjabat sebagai kepala cabang BTN KCP Way Halim yang sebelumnya merupakan petugas di BTN Jalan Wolter Monginsidi , disebut turut menyampaikan bahwa pihaknya akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, persoalan belum kunjung selesai.

Riduan Agus mengaku pihak bank sempat memberikan fotokopi sertifikat yang telah dilegalisir. Akan tetapi, menurutnya, dokumen tersebut justru tidak sesuai dengan alamat rumah yang selama ini dicicil dan ditempatinya.

Persoalan tersebut kemudian berlarut-larut. Ketika Riduan Agus berencana menjual rumah tersebut, keberadaan sertifikat asli kembali menjadi persoalan. Calon pembeli disebut bersedia membeli rumah tersebut dengan nilai sekitar Rp450 juta, tetapi meminta sertifikat asli sebagai salah satu dokumen penting dalam proses transaksi.

Karena sertifikat belum dapat diberikan, rencana penjualan rumah tersebut pun tidak dapat dilanjutkan.

Riduan Agus mengatakan pihak BTN yaitu Bapak Sukandar Sofian kemudian sempat menawarkan skema kredit usaha kepadanya sambil menunggu proses penerbitan atau penyelesaian sertifikat serta memperbaiki Sesuai Letak rumah serta luas tanah dan bangunan sesuai dengan tempat yang ditinggali.

Baca Juga :  Giliran PTPN VII Unit Repa Santuni Anak Yatim, Manager Ingatkan Surat Alma'un

Sofian juga mengatakan apabila sertifikat tak kunjung selesai maka Bapak Riduan juga tidak usah menyelesaikan cicilan kredit usaha tersebut.

Namun, hingga waktu yang cukup panjang, sertifikat asli yang diharapkan tetap belum diterima. Persoalan kembali memanas pada Senin, 7 September 2026.

Riduan Agus kembali mendatangi kantor BTN untuk menanyakan kejelasan sertifikat sekaligus menyampaikan maksud untuk kembali mencicil kredit kepada pihak bank.

Namun, menurut Riduan Agus, pihak bank kembali hanya menunjukkan salinan sertifikat, bukan sertifikat asli yang selama ini dipersoalkannya.

Situasi kemudian memanas dan terjadi cekcok antara Riduan Agus dengan pihak bank. Riduan mengaku meminta pihak BTN memberikan pertanggungjawaban serta kejelasan mengenai keberadaan sertifikat asli tersebut.

Alih-alih memperoleh penyelesaian, Riduan Agus mengaku mendapat respons yang menurutnya tidak ramah. Bahkan, ia menyebut terdapat ucapan yang dianggap kasar dan dirinya disebut “aneh” oleh pihak bank.

Baca Juga :  Tiga Kades di Lamsel Dukung Pembangunan Jalan Cor Swadaya Masyarakat

Riduan Agus mempertanyakan bagaimana mungkin rumah yang kreditnya telah diselesaikan sejak 2002 hingga kini belum memiliki kejelasan mengenai sertifikat asli.

“Saya hanya meminta hak saya. Kredit sudah saya selesaikan sejak 2002. Saya datang baik-baik untuk meminta sertifikat dan meminta pertanggungjawaban karena sejak awal pihak bank menyatakan akan bertanggung jawab,” ujar Riduan Agus.

Langkah Konkret

Ia berharap BTN dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai keberadaan sertifikat tersebut, termasuk langkah konkret yang akan dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Riduan Agus juga meminta agar pihak bank tidak hanya memberikan salinan dokumen, tetapi memberikan kepastian mengenai status sertifikat asli rumah yang menjadi objek kredit.

Persoalan ini diharapkan dapat memperoleh penyelesaian melalui mekanisme yang jelas dan transparan, sehingga tidak terus merugikan pemilik rumah maupun pihak lain yang berkepentingan terhadap objek tersebut.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak BTN belum memberikan keterangan resmi mengenai kronologi hilangnya sertifikat, serta langkah penyelesaian yang akan ditempuh. (AMD)

Penulis : Mufid

Editor : Eka Setiawan

Berita Terkait

Akademisi Unila: Penghalangan Pers Berpotensi Hambat Komunikasi Publik
Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi dari Kebun ke Cangkir
Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan
Kasus Dugaan Penggelapan Mobil Mewah Anggota DPRD Bandar Lampung YI Naik Penyidikan
BBM Solar Langka, Antrian Mengular, Aktivitas Ekonomi Terganggu
Kanwil Kemenag Lampung Optimalkan Layanan Digital Nikah
Muktamar NU Ke-35, Mbak Khoir: PKB dan NU Satu Akar, Satu Cita-Cita, Satu Napas Perjuangan
IMM Pringsewu Pertanyakan Kinerja ‘Melempem’ BK DPRD Jaga Muruwah Legislatif

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:44 WIB

Akademisi Unila: Penghalangan Pers Berpotensi Hambat Komunikasi Publik

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi dari Kebun ke Cangkir

Rabu, 30 September 2026 - 15:23 WIB

Dapur SPPG Ambarawa 3 Muncul Bau Menyengat, Standar Higiene Dipertanyakan

Sabtu, 19 September 2026 - 21:31 WIB

Kasus Dugaan Penggelapan Mobil Mewah Anggota DPRD Bandar Lampung YI Naik Penyidikan

Kamis, 10 September 2026 - 17:03 WIB

BBM Solar Langka, Antrian Mengular, Aktivitas Ekonomi Terganggu

Berita Terbaru

Ekonomi dan Kreatif

PTPN I Siapkan Investasi Rp26,76 Triliun untuk Hilirisasi

Kamis, 22 Okt 2026 - 11:48 WIB

Provinsi

Wira dan Adi Jadi Kandidat Pertama di Penjaringan PWI Lampung

Senin, 19 Okt 2026 - 16:38 WIB