Bandar Lampung, (dinamik.id) — Komunitas Ruang Pojok kembali menggelar kegiatan Silaturahmi dan Diskusi Buku dalam sesi Ngaji Bahasa, yang berlangsung pada Jumat, 24 Januari 2026. Kegiatan ini membahas buku Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat, terbitan Lampung Literature, yang diterbitkan pada November 2025.
Diskusi menghadirkan Ari Pahala Hutabarat (APH) sebagai penulis, serta Solihin Ucok sebagai ‘teman ngobrol’. Acara ini dihadiri oleh beragam kalangan, mulai dari seniman, aktivis kebudayaan, mahasiswa, hingga pegiat literasi.
Amnesia Kolektif Nusantara
Dalam pemaparannya, Ari Pahala Hutabarat menerangkan proposisi utama buku puisi tersebut.
“Kita–masyarakat indonesia–sedang mengalami amnesia secara kolektif. Kita tengah melupakan ‘ibu’ kita—Nusantara,” ujarnya.
Ari menambahkan bahwa dalam buku tersebut ia menuangkan bacaan subjektifnya atas data sejarah nusantara dari masa ke masa, sejak kedatangan penjajah hingga saat ini.
Ari menjelaskan bahwa kegelisahan tersebut salah satunya dipicu oleh narasi resmi negara yang kembali menggaungkan kejayaan jalur rempah beberapa waktu lalu. Narasi tersebut menyebut Nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia karena kekayaan hasil bumi, khususnya rempah-rempah.
“Pertanyaannya sederhana,” kata Ari, “apakah karena kita pernah menjadi penghasil rempah terbesar di dunia, lantas itu otomatis berarti kita pernah jaya?”
Di sinilah, menurut Ari, letak amnesia itu bekerja.
Ari menegaskan bahwa memang benar perdagangan rempah pernah terjadi di Nusantara. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa rempah justru menjadi pintu masuk bangsa-bangsa Eropa untuk melakukan monopoli perdagangan, yang kemudian berujung pada kolonialisasi.
“Menganggap masa itu sebagai masa kejayaan adalah delusi,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika Nusantara benar-benar berada pada posisi jaya, maka seharusnya yang terjadi adalah ekspor kebudayaan secara timbal balik.
“Seharusnya ada rumah panggung Nusantara di Belanda. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seluruh sistem budaya, moral, politik, hingga agama asing masuk dan menguasai Nusantara. Itu yang ingin saya gugat, yang secara verbal maupun puitik saya sampaikan lewat buku ini,” jelas Ari.
Menurut Ari, persoalan utama bangsa ini bukan sekadar lupa, tetapi secara aktif menolak sejarahnya sendiri.
“Sejarah Nusantara tidak kita hadapi, tidak kita terima. Padahal fungsi sejarah adalah agar kita belajar, mengevaluasi, dan terhindar dari pengulangan kesalahan,” ujarnya.
Karena sejarah tidak dihadapi secara jujur, luka kolektif pun terus berulang dengan pola yang sama. Ari memberi beberapa contoh konkret: mulai dari romantisasi jalur rempah, program penulisan ulang sejarah Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan, hingga wacana pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional—padahal pada era Reformasi, sosok tersebut merupakan simbol trauma kolektif bangsa.
Ia juga menyinggung bagaimana rezim Orde Baru membungkam kekejaman peristiwa G30S 1965.
“zaman berganti, peristiwa berubah, tapi polanya tetap sama: amnesia,” tegasnya.
Ari mengakui bahwa niat negara dalam merancang ulang sejarah kerap dibingkai sebagai upaya membangun rasa percaya diri nasional dan mengikis rasa inferior. Namun, menurutnya, cara tersebut justru keliru.
“Menggunakan kacamata Gustav Jung, cara seperti ini justru melahirkan ego palsu bangsa. Ego palsu membuat proses individuasi gagal terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, amnesia muncul dari sikap ahistoris—ketika bangsa tidak benar-benar berhadapan dengan sejarahnya sendiri.
“Melawan ahistoris hanya bisa dilakukan dengan dialog yang jujur terhadap data-data sejarah, dengan menginterogasinya secara kritis,” pungkas Ari.
Melalui Ngaji Bahasa, Komunitas Ruang Pojok menegaskan kembali pentingnya ruang diskusi kritis sebagai upaya membaca ulang sejarah, identitas, dan masa depan Nusantara. Diskusi ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran bahwa menghadapi sejarah—termasuk luka-lukanya—adalah langkah awal menuju Indonesia Emas 2045. (*)












