Penulis
Direktur Utama Sinyal Publik Indonesia Adi Widiatmoko
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas nasional yang bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, nelayan, UMKM, dan rantai pasok pangan daerah.
Secara nasional, pemerintah menilai program ini tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi lokal.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat program MBG telah melibatkan sekitar 46 ribu UMKM dan menyerap ratusan ribu tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.
Namun demikian, hasil survei Sinyal Publik Indonesia mengenai Dampak Program MBG Terhadap Ketersediaan Barang dan Penjualan Sembako Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bandar Lampung Tahun 2026 menunjukkan bahwa dampak positif tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh pedagang pasar tradisional di Kota Bandar Lampung.
Berdasarkan survei tatap muka yang dilakukan pada 12–19 Juni 2026, mayoritas responden menilai pelaksanaan Program MBG di Kota Bandar Lampung masih belum berjalan optimal.
Sebanyak 90,9% responden memberikan penilaian negatif terhadap pelaksanaan program, sedangkan hanya 9,1% yang memberikan penilaian positif.
Temuan ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara tujuan program secara nasional dengan persepsi pedagang di tingkat lokal.
Dari sisi aktivitas perdagangan, mayoritas pedagang menilai Program MBG belum mampu meningkatkan aktivitas perdagangan sembako di pasar tradisional.
Sebanyak 90,9% responden menyatakan tidak setuju bahwa program tersebut telah mendorong peningkatan aktivitas perdagangan. Bahkan, mayoritas responden juga tidak merasakan adanya peningkatan kebutuhan stok barang dagangan setelah program berjalan.
Survei juga menemukan bahwa peningkatan permintaan sembako yang diharapkan dari pelaksanaan program belum terjadi secara signifikan. Sebanyak 84,9% responden menyatakan tidak setuju bahwa permintaan sembako meningkat setelah Program MBG berjalan.
Sebaliknya, persepsi mengenai kenaikan harga sembako justru sangat kuat. Sebanyak 87,8% responden menyatakan harga sembako menjadi lebih mahal setelah pelaksanaan program.
Selain itu, mayoritas pedagang menilai daya beli masyarakat belum mengalami peningkatan. Sebanyak 97% responden tidak melihat adanya kenaikan daya beli masyarakat pasca pelaksanaan MBG. Bahkan, sebagian besar responden mengaku merasakan adanya penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.
Di sektor distribusi dan pasokan barang, hasil survei menunjukkan dampak yang relatif beragam. Mayoritas responden tidak mengalami keterlambatan pasokan barang yang signifikan setelah adanya Program MBG. Ketersediaan stok sembako di pasar juga dinilai relatif stabil oleh sebagian besar pedagang.
Sebanyak 48,5% responden menyatakan stok sembako tetap stabil dan pasokan barang masih mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
Meski demikian, sebagian besar pedagang mengakui adanya peningkatan biaya distribusi barang.
Sebanyak 60,6% responden menyatakan setuju bahwa biaya distribusi meningkat setelah pelaksanaan Program MBG. Di sisi lain, mayoritas responden juga menilai program tersebut belum mampu memperkuat rantai pasok sembako secara optimal di pasar tradisional.
Dalam aspek ketahanan pasokan, mayoritas pedagang menyatakan masih mampu menjaga ketersediaan barang setiap hari dan memenuhi permintaan pasar secara konsisten. Selain itu, sebagian besar responden tidak melihat adanya peningkatan persaingan yang signifikan dalam memperoleh stok barang dagangan.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan biaya distribusi, sistem pasokan sembako di pasar tradisional Kota Bandar Lampung secara umum masih berjalan cukup baik.
Sementara itu, dampak terhadap penjualan pedagang menjadi salah satu temuan paling menonjol dalam survei ini. Mayoritas responden menyatakan bahwa Program MBG belum memberikan pengaruh positif terhadap volume penjualan sembako.
Sebanyak 90,9% responden tidak setuju bahwa volume penjualan meningkat setelah program berjalan.
Persepsi serupa juga terlihat pada aspek keuntungan dan pendapatan pedagang.
Sebagian besar responden menyatakan keuntungan penjualan tidak mengalami peningkatan, sementara mayoritas lainnya menilai Program MBG belum memberikan dampak positif terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional.
Stabilitas penjualan juga dinilai belum membaik, dengan hampir delapan dari sepuluh responden menyatakan penjualan sembako tidak menjadi lebih stabil setelah pelaksanaan program.
Pada dimensi dinamika penjualan, sebanyak 78,8% responden tidak setuju bahwa penjualan sembako meningkat secara signifikan pasca Program MBG. Mayoritas responden juga menilai program tersebut belum memberikan pengaruh positif terhadap penjualan sembako maupun peningkatan keuntungan pedagang.
Adapun terkait tingkat persaingan antar pedagang, responden menunjukkan pandangan yang relatif beragam dan belum terdapat kecenderungan yang dominan.
Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan bahwa meskipun Program MBG secara nasional dirancang untuk memperkuat gizi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui penguatan rantai pasok pangan dan pemberdayaan UMKM, manfaat ekonomi tersebut belum dirasakan secara signifikan oleh pedagang sembako di pasar tradisional Kota Bandar Lampung.
Mayoritas responden menilai program belum mampu meningkatkan permintaan sembako, volume penjualan, keuntungan, maupun pendapatan pedagang. Di sisi lain, pedagang justru merasakan kenaikan harga sembako dan meningkatnya biaya distribusi barang.
Masukan
Temuan ini menjadi masukan penting bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi terhadap implementasi Program MBG di tingkat lokal, khususnya dalam memperkuat keterlibatan pasar tradisional dalam rantai pasok program sehingga manfaat ekonomi yang diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh para pelaku usaha kecil dan pedagang sembako.
Sejalan dengan Pedoman Umum Sistem Tata Kelola BGN untuk Program MBG BAB 3 Program MBG Bagian 3.1 Landasan dan Arah Strategis Program MBG 3.1.1 Kebijakan dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional nomor 2. Memperkuat Pertahanan, Keamanan, dan Kemandirian Ekonomi.
Dari hasil survey, Sinyal Publik Indonesia menilai bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Namun, berdasarkan temuan survei di Kota Bandar Lampung, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha di pasar tradisional.
Pemerintah perlu memperketat aturan hukum dan memperkuat integrasi antara pelaksanaan MBG dengan ekosistem perdagangan lokal, khususnya pedagang pasar tradisional, petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM daerah.
Dengan demikian, kebutuhan bahan pangan dalam program dapat lebih banyak diserap dari rantai pasok lokal sehingga memberikan efek pengganda ekonomi yang lebih besar.
Program MBG pada prinsipnya merupakan investasi sosial yang sangat penting bagi masa depan Indonesia. Namun, hasil survei ini menunjukkan bahwa manfaat ekonominya belum dirasakan secara optimal oleh pedagang pasar tradisional di Kota Bandar Lampung, khususnya yang berada di lingkungan dapur MBG.
Ke depannya, perlu adanya aturan hukum yang jelas dan tegas terhadap pengelolaan SPPG, penguatan tata kelola distribusi, transparansi pengadaan bahan pangan, serta pelibatan lebih besar terhadap pelaku usaha lokal agar memberikan peningkatan ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan tentunya akan memberikan dampak positif juga terhadap perekomian daerah.
Evaluasi Berkala
Evaluasi berkala sangat diperlukan untuk memastikan tujuan utama program tetap tercapai tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap harga pangan maupun biaya distribusi di tingkat daerah.
Lebih lanjut, hasil survei menunjukkan adanya perbedaan antara tujuan kebijakan dan persepsi yang dirasakan oleh pedagang di lapangan.
Mayoritas responden belum merasakan peningkatan permintaan sembako, volume penjualan, maupun keuntungan usaha sejak Program MBG dilaksanakan.
Hasil survei ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa Program MBG gagal, tetapi memberikan gambaran bahwa manfaat ekonomi program belum sepenuhnya tersalurkan kepada pedagang pasar tradisional. Di sisi lain, para pedagang justru merasakan adanya kenaikan harga sembako dan meningkatnya biaya distribusi barang. Ini menjadi catatan penting yang perlu diperhatikan oleh para pemangku kebijakan.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu melakukan pemetaan yang lebih komprehensif terhadap rantai pasok bahan pangan yang digunakan dalam Program MBG. Semakin besar keterlibatan pasar tradisional dan pelaku usaha lokal dalam memenuhi kebutuhan program, maka semakin besar pula peluang terciptanya peningkatan permintaan barang, pertumbuhan omzet pedagang, dan penguatan ekonomi daerah.
Tim berharap survei ini menjadi bahan evaluasi konstruktif bagi seluruh pemangku kebijakan. Program MBG memiliki tujuan yang sangat baik maka dari itu, evaluasi berbasis data menjadi penting agar pelaksanaan program semakin efektif, tepat sasaran, serta mampu memberikan manfaat gizi dan manfaat ekonomi secara bersamaan.

Penulis : Opini
Editor : Eka Setiawan
Sumber Berita : Opini Publik, Survey









