Refleksi Hari Kartini Ke-147: Ichwan Ajak Generasi Muda Bangun Kedaulatan Intelektual di Era Digital

Selasa, 21 April 2026 - 17:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung, (dinamik.id) – Memperingati Hari Kartini di tengah disrupsi teknologi abad ke-21, mantan Ketua DPC GMNI Bandar Lampung dua periode yang kini menempuh studi Magister di USBRJ, Ichwan Aulia, menyerukan restrukturisasi makna perjuangan Kartini bagi generasi muda.

Setiap tanggal 21 April, ingatan kolektif bangsa kerap kali terjebak pada simbolisme tekstil, kebaya dan sanggul. Padahal, jika kita menyelami surat-surat dalam “Door Duisternis tot Licht”, perjuangan Raden Ajeng Kartini bukanlah tentang estetika, melainkan tentang pendobrakan struktur berpikir.

Di abad ke-21 yang serba digital dan disruptif ini, memaknai Kartini menuntut kita untuk bergerak lebih jauh dari sekadar perayaan seremonial.

ADVERTISEMENT

addgoogle

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Ichwan, Hari Kartini tidak boleh lagi terjebak pada simbolisme seremonial seperti pakaian adat, melainkan harus dimaknai sebagai momentum kebangkitan nalar kritis dan kedaulatan intelektual bangsa.

Baca Juga :  Tingkatkan Mutu Pendidikan Tinggi, LPM Selaraskan SPMI dengan SPME

“Kartini adalah pendobrak zaman melalui pena dan pemikiran. Di abad ke-21, emansipasi sejati bagi pemuda dan perempuan adalah kemampuan memerdekakan nalar dari banjir informasi dan propaganda digital,” ujar Ichwan dalam rilis tertulisnya di Bandar Lampung, Selasa (21/4/2026).

Tiga Pilar Transformasi Pemikiran
Dalam catatannya, Ichwan menyoroti tiga poin utama dalam memaknai semangat Kartini di masa kini:

1. Kedaulatan Nalar: Menjadikan literasi sebagai senjata utama untuk melawan pembodohan dan ketidakadilan, sebagaimana Kartini menggunakan korespondensi untuk melawan feodalisme.

2. Kemandirian Ekonomi: Mendorong terciptanya ekosistem kerja yang adil dan inklusif, di mana kompetensi menjadi panglima tanpa adanya sekat gender.

3. Kepemimpinan Berwatak Kerakyatan: Mengadopsi kepemimpinan yang empatik namun progresif untuk menjawab tantangan sosial yang semakin kompleks.

Baca Juga :  Ikut Audisi 100 Mahasiswa UIN Siap Tampil di PKM se-Sumatera

Sebagai aktivis yang pernah memimpin organisasi mahasiswa nasional di tingkat daerah selama dua periode (2020-2024), Ichwan menekankan bahwa nilai-nilai kerakyatan atau Marhaenisme yang ia pelajari sangat selaras dengan keresahan Kartini terhadap nasib rakyat kecil.

“Kita butuh lebih banyak ‘Kartini baru’ yang berani mengisi pos-pos strategis dengan integritas dan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat bawah,” tambahnya.

Menutup refleksinya, Ichwan mengatakan dunia hari ini membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang empatik, kolaboratif, namun tetap tegas dalam prinsip kualitas yang seringkali melekat pada figur perempuan tangguh. Kepemimpinan yang tidak hanya mengejar kekuasaan, tetapi kepemimpinan yang membebaskan, sebagaimana Kartini ingin membebaskan kaumnya dari kebodohan.

Abad ke-21 menawarkan panggung yang lebih luas, namun tantangannya pun lebih kompleks. Kartini telah meletakkan batu pertama dari fondasi kesetaraan. Tugas kita sekarang baik laki-laki maupun perempuan adalah memastikan bangunan itu berdiri kokoh di atas pilar keadilan sosial.
Mari kita maknai Hari Kartini bukan sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai momentum untuk merefleksikan kembali: Sudah sejauh mana nalar kita merdeka? Dan sudah seberapa besar kontribusi kita untuk memanusiakan sesama manusia?

Baca Juga :  Rektor Terima Audiensi Bupati Lamteng Bahas Program PSDKU

Ia menegaskan bahwa semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah sebuah proses dialektika yang menuntut kerja nyata, bukan sekadar kutipan di media sosial.

“Terang itu tidak jatuh dari langit. Ia harus dijemput dengan keberanian berpikir dan bertindak secara kolektif,” tutup mahasiswa pascasarjana USBRJ tersebut. (*)

Berita Terkait

Pensiunan PT SIL Gelar Halalbihalal Jaga Silaturahmi
Dari Buka Puasa ke Buka Fakta: Forum Publik di Talangsari Ingatkan Negara soal Keadilan
BEM FH UBL Desak Tangkap Aktor dan Beking Tambang Emas Ilegal Waykanan, Cek Juga di Pesawaran!
Masyarakat Berhak Menggugat: Pemerintah Disebut Gagal Melindungi Warga dari Bencana Banjir
Terpilih Pimpin KAHMI Lamteng, Topan Aquardi Ajak Alumni Kompak
LBH Dharma Loka Nusantara Menolak Amnesia Sejarah Lewat Diskusi ‘Membaca Nusantara #5’
Pencabutan HGU Cerminkan Sikap Kurang Kedepankan Prinsip Kepatutan
Komunitas Ruang Pojok dan Lampung Literature gelar Ngaji Bahasa: Membaca Nusantara #3

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 17:32 WIB

Refleksi Hari Kartini Ke-147: Ichwan Ajak Generasi Muda Bangun Kedaulatan Intelektual di Era Digital

Minggu, 12 April 2026 - 22:42 WIB

Pensiunan PT SIL Gelar Halalbihalal Jaga Silaturahmi

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:42 WIB

Dari Buka Puasa ke Buka Fakta: Forum Publik di Talangsari Ingatkan Negara soal Keadilan

Kamis, 12 Maret 2026 - 16:08 WIB

BEM FH UBL Desak Tangkap Aktor dan Beking Tambang Emas Ilegal Waykanan, Cek Juga di Pesawaran!

Minggu, 8 Maret 2026 - 05:05 WIB

Masyarakat Berhak Menggugat: Pemerintah Disebut Gagal Melindungi Warga dari Bencana Banjir

Berita Terbaru

Pringsewu

Tak Sekadar Lomba, Anak-anak Pringsewu Hidupkan Kisah Nusantara

Selasa, 21 Apr 2026 - 17:37 WIB