Klasika Lampung Soroti Minimnya Ruang Edukasi dalam Festival Krakatau 2026

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung, (Dinamik.id);— Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menyayangkan masih minimnya ruang edukasi dalam penyelenggaraan Festival Krakatau 2026 dan cenderung seremonial. Agenda tahunan yang menyematkan kata krakatau ini seharusnya menjadi medium refleksi sejarah dan pembelajaran publik tentang peristiwa letusan Gunung Krakatau.

Direktur Klasika Lampung, Ahmad Mufid, menegaskan bahwa aspek edukasi seharusnya menjadi salah satu bagian yang harus mendapatkan perhatian serius dalam festival tersebut.

“Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan, Ia harus menjadi tuntunan. Peristiwa letusan Krakatau 1883 bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran penting tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan,” ujar Mufid.

Festival Krakatau 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 dan dipusatkan di Lapangan Saburai Enggal, Bandar Lampung, sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN). Rangkaian kegiatannya meliputi festival band, solo song, dance, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, hingga festival mewarnai.

Baca Juga :  DPRD Kawal Proyek PSEL 2028, TPA Bakung Ditargetkan Bertransformasi Jadi Energi Listrik

Selain itu, terdapat pula karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, festival kuliner, Pesona Kemilau Krakatau, tur edukasi Gunung Anak Krakatau, balap perahu, lomba layang-layang, serta pameran seni rupa dan kerajinan lokal.

Meski ragam kegiatan tersebut dinilai mampu menarik partisipasi masyarakat luas, Klasika menilai masih terdapat kekosongan pada aspek edukasi yang substansial, khususnya yang mengangkat perspektif sejarah lokal.

Salah satu bentuk penguatan edukasi yang diusulkan adalah menghadirkan Dr. Suryadi dari Universitas Leiden, peneliti naskah “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh. Naskah tersebut merupakan dokumentasi langka yang merekam secara detail dampak letusan Krakatau 1883 dari sudut pandang masyarakat lokal.

Baca Juga :  Sambut Ramadhan, Pemprov Lanjutkan Pasar Murah

“Teks ini merupakan reportase pribumi yang mendokumentasikan kengerian dan kedahsyatan letusan Gunung Krakatau 1883, menggabungkan nilai sejarah, catatan ilmiah, dan jurnalistik,” jelas Mufid.

Menurutnya, karya tersebut memiliki nilai penting sebagai sumber pengetahuan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian. Padahal, keberadaan naskah seperti “Syair Lampung Karam” dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sejarah sekaligus literasi kebencanaan berbasis pengalaman masyarakat Lampung.

Klasika mengingatkan bahwa membiarkan Festival Krakatau berjalan tanpa penguatan aspek edukasi berisiko mengaburkan makna historis peristiwa tersebut. Festival dikhawatirkan hanya menjadi agenda hiburan rutin tanpa kontribusi nyata terhadap peningkatan kesadaran publik.

Baca Juga :  Kurnia Akbar Prasetia Terpilih sebagai Ketua Cabang PMII Tulang Bawang Masa Khidmat 2025-2026

“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai festival, tetapi lupa bahwa di baliknya ada tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung,” tegasnya.

Untuk itu, Klasika mendorong Pemerintah Provinsi Lampung dan seluruh pihak terkait agar menghadirkan ruang-ruang edukasi yang lebih serius dan terstruktur dalam Festival Krakatau ke depan, baik melalui diskusi publik, pameran arsip sejarah, pemutaran film dokumenter, maupun kolaborasi dengan akademisi dan peneliti.

Dengan demikian, Festival Krakatau tidak hanya menjadi ajang hiburan dan pariwisata, tetapi juga wahana pembelajaran yang bermakna bagi masyarakat luas.

Berita Terkait

Maulid Nabi 1448 H, Kemenag Lampung Tekankan Keteladanan Rasulullah dalam Pelayanan
Muktamar NU Ke-35, Mbak Khoir: PKB dan NU Satu Akar, Satu Cita-Cita, Satu Napas Perjuangan
IMM Pringsewu Pertanyakan Kinerja ‘Melempem’ BK DPRD Jaga Muruwah Legislatif
Prof Warsito Mendaftar Calon Rektor Unila 2027-2031, Disusul Dr Budiono
Jalankan Amanah Rakyat, Anggota DPR Fraksi Golkar Aprozi Alam Salurkan KIP Madrasah se Lampung
Keluarga Pengurus PWI Lampung Mengaku Diancam Tetangga, Terpaksa Mengungsi Dini Hari
PWI Lampung Tetapkan 14 Kontingen Porwanas Cabor Karaoke 2027, Ini Daftarnya!
Yuhadi Optimistis Sapu Bersih 6 Emas Cabor Karoke di Porwanas Lampung 2027

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 16:25 WIB

Maulid Nabi 1448 H, Kemenag Lampung Tekankan Keteladanan Rasulullah dalam Pelayanan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:05 WIB

Muktamar NU Ke-35, Mbak Khoir: PKB dan NU Satu Akar, Satu Cita-Cita, Satu Napas Perjuangan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:06 WIB

IMM Pringsewu Pertanyakan Kinerja ‘Melempem’ BK DPRD Jaga Muruwah Legislatif

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Prof Warsito Mendaftar Calon Rektor Unila 2027-2031, Disusul Dr Budiono

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:22 WIB

Jalankan Amanah Rakyat, Anggota DPR Fraksi Golkar Aprozi Alam Salurkan KIP Madrasah se Lampung

Berita Terbaru