Bandar Lampung, (dinamik.id) — Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, M Syukron Muchtar, menyoroti lonjakan kasus HIV di Lampung, khususnya di Pringsewu, dengan menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap platform digital yang dinilai turut mempermudah terbentuknya perilaku berisiko di tengah masyarakat.
Ia menilai perkembangan teknologi digital dinilai turut membuka akses yang lebih luas terhadap praktik seksualitas bebas, sehingga perlu langkah serius dari pemerintah pusat dan kementerian terkait untuk mengevaluasi aplikasi-aplikasi yang berpotensi mempermudah perilaku seksual.
“Kalau memang ada aplikasi yang memfasilitasi praktik-praktik negatif itu, sebaiknya direkomendasikan untuk dibatasi atau dihentikan peredarannya di Indonesia,” ujarnya, senin (18/5/2026).
Disisi lain, Syukron mengingatkan bahwa penyebaran HIV tidak hanya dikaitkan dengan praktik seksualitas tidak sehat dan perilaku gonta-ganti pasangan. Tetapi juga dapat terjadi melalui kontak darah, termasuk penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Masyarakat harus menjadi benteng bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Kita harus menjaga generasi muda dari perilaku yang berisiko,” imbuh Legislator dari Dapil III yang meliputi Kabupaten Pringsewu, Pesawaran, dan Kota Metro ini.
Politis muda PKS itu juga mengingatkan agar masyarakat tidak membenci orang yang terjangkit HIV/AIDS. Menurutnya, yang harus dilawan adalah perilaku buruk yang menjadi penyebab penyebaran penyakit tersebut, bukan manusianya.
“Mereka tetap warga bangsa yang harus dilindungi. Pemerintah wajib hadir melalui pendampingan, tes gratis, dan layanan kesehatan yang baik bagi penderita HIV,” tegasnya.
Selain itu, Syukron menilai pemerintah daerah perlu mencari akar persoalan meningkatnya kasus HIV, apakah dipicu gaya hidup, faktor ekonomi, atau minimnya aktivitas positif bagi anak muda.
Ia pun mendorong dinas terkait untuk memperbanyak kegiatan kepemudaan, olahraga, dan program peningkatan ekonomi masyarakat agar generasi muda lebih fokus pada aktivitas produktif.
“Anak-anak muda harus disibukkan dengan kegiatan positif dan masyarakat juga perlu diperkuat secara ekonomi. Dengan begitu, ruang munculnya perilaku negatif bisa ditekan,” pungkasnya. (Amd)










