Pesawaran, (dinamik.id) — Ketua Karang Taruna Kecamatan Tegineneng, Amri Wibowo, mendesak DPRD Kabupaten Pesawaran dan Pemerintah Kabupaten Pesawaran segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Trimulyo, menyusul dugaan kasus keracunan yang menimpa puluhan siswa.
Amri menyampaikan keprihatinan sekaligus kecaman atas peristiwa yang dikabarkan berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa setiap kejadian yang berdampak pada kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Apabila dugaan tersebut terbukti, tentu hal ini sangat memprihatinkan. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” ujar Amri, Senin (24/7/2026).
Ia meminta DPRD, pemerintah daerah, dan instansi terkait mengambil langkah cepat, profesional, serta sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebagai tindak lanjut, Karang Taruna Tegineneng juga telah mengonfirmasi pihak Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat kecamatan. Perwakilan BGN, Eduan Lesmana, menyatakan bahwa kewenangan pemberian sanksi terhadap SPPG berada di tingkat pusat.
“Untuk pemberian sanksi merupakan kewenangan BGN pusat sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku,” kata Eduan.
Menanggapi hal itu, Amri berharap BGN pusat segera melakukan evaluasi komprehensif serta mengambil keputusan berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengawal proses penanganan secara objektif dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Sementara itu, dikutip dari lama berita lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran membenarkan adanya kejadian yang dialami siswa dan guru SDN 22 Tegineneng usai mengonsumsi MBG. Sebanyak 32 siswa dan satu guru dilaporkan mengalami mual dan pusing, Jumat (24/7/2026).
“Kejadiannya benar. Siswa dan guru sempat diberi pengobatan di Puskesmas Trimulyo karena mengalami mual dan pusing. Setelah itu mereka sudah bisa pulang,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pesawaran, Trio Pranoto.
Ia menambahkan, seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis dan diperbolehkan pulang. Petugas kesehatan juga akan melakukan pemantauan selama tiga hari ke depan untuk memastikan kondisi mereka tetap stabil. (Amd)










