PRINGSEWU, (Dinamik.id) — Proyek rekonstruksi/peningkatan Jalan Bulukarto–Mataram, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, senilai Rp7,4 miliar menjadi sorotan.
Pantauan di lokasi, Kamis (1/10/2026), menemukan sejumlah dugaan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan pekerjaan. Mulai dari penggunaan alat pelindung diri (APD) pekerja, pemasangan batu, hingga proses pengadukan material yang dipertanyakan takarannya.
Proyek yang dikerjakan CV Salim Jaya Konstruksi tersebut menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak Rp7.455.977.117 dan masa pelaksanaan 120 hari.
Dari pantauan media ini, beberapa pekerja terlihat tidak menggunakan APD secara lengkap. Bahkan, terdapat pekerja yang tidak mengenakan APD saat berada di lokasi pekerjaan.
Persoalan lain terlihat pada pekerjaan pemasangan batu. Di salah satu titik, lapisan batu yang dipasang terlihat hanya satu lapis. Kondisi ini menjadi pertanyaan karena ketebalan lapisan batu yang disebut dalam spesifikasi mencapai 30 sentimeter.
Tak hanya itu, proses pengadukan semen juga menjadi sorotan. Material terlihat dicampur tanpa menggunakan ukuran yang jelas. Satu sak semen dituang langsung ke tumpukan pasir yang takarannya tidak diketahui, kemudian dicampur dan diberi air.
Kondisi tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Konsultan Pengawas, Riski Ardiansyah, S.T.
Terkait penggunaan APD, Riski mengatakan penyediaannya merupakan tanggung jawab kontraktor.
“Penyediaan APD itu tanggung jawab perusahaan kontraktor,” terangnya.
Sementara mengenai adukan yang tidak menggunakan takaran, Riski mengaku pihaknya sudah beberapa kali memberikan teguran kepada rekanan.
“Sudah kami sampaikan agar memperhatikan takaran. Tapi begitu kami dan petugas PUPR tidak ada di lokasi, mereka kembali mengaduk tanpa ukuran. Kami tidak tahu karena kami kan tidak di lokasi mengawasi adukan terus-menerus,” jelasnya.
Temuan lain muncul pada pekerjaan galian. Berdasarkan penelusuran di lokasi, terdapat bagian yang harus diisi kembali dengan tanah karena galian dinilai terlalu dalam.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Pringsewu, Ade Suherna, S.T., M.T., setelah menerima laporan dan dokumentasi hasil pantauan, mengatakan pihaknya akan mengecek langsung pekerjaan tersebut.
“Besok kami akan cek langsung ke lapangan dan berkoordinasi dengan pihak rekanan serta konsultan pengawas,” katanya.
PUPR kemudian mengutus staf, Rio Anggoro, untuk menelusuri kondisi di lapangan.
Menurut Rio, persoalan bermula dari pekerjaan galian yang tidak mengikuti arahan pengawas.
“Kesalahan awal ada pada galian yang tidak sesuai arahan pengawas, sehingga pihak rekanan harus mengisi bagian bawah dengan tanah untuk meninggikan karena galian terlalu dalam,” ungkapnya.
Namun, persoalan tidak berhenti pada galian. Rio mengatakan tanah yang digunakan untuk mengisi bagian tersebut seharusnya dipadatkan terlebih dahulu.
“Sayangnya tanah tersebut tidak dipadatkan terlebih dahulu, paling tidak pakai alat stamper atau dipadatkan dengan kendaraan,” ujarnya.
Untuk persoalan campuran adukan semen, Rio belum dapat memastikan apakah takaran yang digunakan sudah sesuai ketentuan.
Namun, ia memastikan akan ada tindakan apabila hasil pemeriksaan membuktikan campuran tidak sesuai spesifikasi.
“Jika terbukti adukan tidak sesuai takaran 1 banding 5, kami akan meminta pihak rekanan untuk membongkar dan mengerjakan ulang bagian yang sudah terpasang,” tegas Rio.
Selain persoalan teknis, penggunaan semen merek Rajawali dan Jakarta di lokasi juga menjadi pertanyaan. Apakah kedua merek tersebut sesuai dengan spesifikasi material yang ditetapkan dalam kontrak, masih menunggu penjelasan dari pihak terkait.
Salah satu warga setempat, Nurdin, berharap proyek tersebut dikerjakan dengan benar dan sesuai aturan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, pembangunan ruas jalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap perkembangan wilayah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pringsewu.
“Kami berharap proyek ini dikerjakan dengan benar sesuai aturan. Karena ke depannya jalan ini bisa menjadi ikon Pringsewu dan mendukung perkembangan UMKM di Pringsewu,” ujar Nurdin.
Proyek dengan nilai miliaran rupiah itu kini mendapat perhatian karena kualitas pekerjaan di lapangan akan menentukan ketahanan jalan dan bangunan pendukungnya.
Dengan adanya temuan tersebut, pemeriksaan dari Dinas PUPR dan konsultan pengawas menjadi penting untuk memastikan setiap pekerjaan benar-benar sesuai spesifikasi kontrak.
(Rhn)

Penulis : Raihan
Editor : Pina haidar









